Showing posts with label Zaman Kebangkitan Nasional. Show all posts
Showing posts with label Zaman Kebangkitan Nasional. Show all posts

Sejarah Terbentuknya Kongres Pemuda II

Sejarah Terbentuknya Kongres Pemuda II - Kongres Pemuda II berlangsung pada 27-28 Oktober dalam tiga tahap rapat. Rapat pertama berlangsung di gedung Katholieke Jongelingen Bond di Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng), lalu dipindahkan ke Oost Java Bioscoop di Konigsplein Noord (sekarang Jalan Medan Merdeka Utara), dan kemudian Gedung Kramat 106 baru dipakai untuk rapat ketiga sekaligus penutupan rapat.

Dari rapat pertama hingga rapat ketiga, kongres pemuda II ini menghadirkan 15 pembicara, yang membahas berbagai tema. Diantara pembicara yang dikenal, antara lain: Soegondo Djojopespito, Muhammad Yamin, Siti Sundari, Poernomowoelan, Sarmidi Mangoensarkoro, dan Sunario.

Hadir pula banyak organisasi pemuda dan kepanduan saat itu, diantaranya: Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Roekoen, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll.

Sebelum kongres pemuda II, para pemuda sudah pernah menggelar kongres pertamanya pada tahun 1926. Tabrani Soerjowitjitro, salah satu tokoh penting dari kongres pertama, peserta kongres pertama sudah bersepakat menjadikan bahasa melayu sebagai bahasa persatuan. Akan tetapi, pada saat itu, Tabrani mengaku tidak setuju dengan gagsan Yamin tentang penggunaan bahasa melayu. Menurut Tabrani, kalau nusa itu bernama Indonesia, bangsa itu bernama Indonesia, maka bahasa itu harus disebut bahasa Indonesia dan bukan bahasa Melayu, walaupun unsur-unsurnya Melayu. Keputusan kongres pertama akhirnya menyatakan bahwa penetapan bahasa persatuan akan diputuskan di kongres kedua.

Seusai kongres pemuda ke-II, sikap pemerintah kolonial biasa saja. Bahkan, Van Der Plass, seorang pejabat kolonial untuk urusan negara jajahan, menganggap remeh kongres pemuda itu dan keputusan-keputusannya. Van Der Plass sendiri menertawakan keputusan kongres untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, mengingat bahwa sebagian pembicara dalam kongres itu justru menggunakan bahasa Belanda dan bahasa daerah. Soegondo sendiri, meskipun didaulat sebagai pimpinan sidang dan berusaha mempergunakan bahasa Indonesia, terlihat kesulitan berbahasa Indonesia dengan baik.

Siti Sundari, salah satu pembicara dalam kongres pemuda II itu, masih mempergunakan bahasa Belanda. Hanya saja, dua bulan kemudian, sebagaimana ditulis Dr Keith Foulcher, pengajar jurusan Indonesia di Universitas Sydney, Australia, Siti Sundari mulai menggunakan bahasa Indonesia.

Akan tetapi, apa yang diperkirakan oleh Van Der Plass sangatlah meleset. Sejarah telah membuktikan bahwa kongres itu telah menjadi "api" yang mencetuskan persatuan nasional bangsa Indonesia untuk melawan kolonialisme.

Padahal, sebagaimana dikatakan sejarahwan Asvi Warman Adam yang mengutip pernyataan Profesor Sartono Kartodirdjo, bahwa Manifesto Politik yang dikeluarkan oleh Perhimpunan Indonesia di Belanda pada 1925 lebih fundamental daripada Sumpah Pemuda 1928. Manifesto Politik 1925 berisi prinsip perjuangan, yakni unity (persatuan), equality (kesetaraan), dan liberty (kemerdekaan). Adapun Sumpah Pemuda hanya menonjolkan persatuan-paling tidak demikianlah yang tertanam dalam memori kolektif masyarakat Indonesia selama ini melalui slogan "satu nusa, satu bangsa, satu bahasa".

Bung Karno sendiri menganggap Sumpah Pemuda 1928 bermakna revolusioner: satu negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke, masyarakat adil dan makmur, dan persahabatan antarbangsa yang abadi. "Jangan mewarisi abu Sumpah Pemuda, tapi warisilah api Sumpah Pemuda. Kalau sekadar mewarisi abu, saudara-saudara akan puas dengan Indonesia yang sekarang sudah satu bahasa, bangsa, dan tanah air. Tapi ini bukan tujuan akhir," kata Soekarno dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-35 di Istana Olahraga Senayan, Jakarta, 28 Oktober 1963.

A. Persiapan Kongres
Upaya mempersatukan organisasi-organisasi pemuda pergerakan dalam satu wadah telah dimulai sejak Kongres Pemuda Pertama 1926. Sebagai kelanjutannya, tanggal 20 Februari 1927 diadakan pertemuan, namun pertemuan ini belum mencapai hasil yang final. Sebagai penggagas Kongres Pemuda Kedua adalah Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Hindia Belanda.

Pada tanggal 3 Mei 1928 diadakan pertemuan lagi untuk persiapan kongres kedua, dan dilanjutkan pada 12 Agustus 1928, Terbentuknya Kongres Pemuda II. Pada pertemuan terakhir ini telah hadir perwakilan semua organisasi pemuda dan diputuskan untuk mengadakan kongres pada bulan Oktober 1928, dengan susunan panitia yang membagi jabatan pimpinan kepada satu organisasi pemuda (tidak ada organisasi yang rangkap jabatan) sebagai berikut:

Ketua: Sugondo Djojopuspito (PPPI)
Wakil Ketua: R.M. Joko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris: Muhammad Yamin (Jong Soematranen Bond)
Bendahara: Amir Sjarifudin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I: Johan Mohammad Cai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II: R. Katjasoengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III: R.C.I. Sendoek (Jong Celebes)
Pembantu IV: Johannes Leimena (Jong Ambon)
Pembantu V: Mohammad Rochjani Su'ud (Pemoeda Kaoem Betawi)

B. Pelaksanaan
Kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat. Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, diadakan di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng).

Dalam sambutannya, ketua PPPI Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Muhammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia, yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.

Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, kongres diadakan di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula mendapat keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Pada rapat penutupan di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri: hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu Indonesia Raya karya Wage Rudolf Supratman yang dimainkan dengan biola saja tanpa syair, atas saran Sugondo kepada Supratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres akhirnya ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia.

C. Peserta
Para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie namun sampai saat ini tidak diketahui latar belakang organisasi yang mengutus mereka.

Sementara Kwee Thiam Hiong hadir sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond. Turut hadir juga 2 perwakilan dari Papua yakni Aitai Karubaba dan Poreu Ohee. Diprakarsai oleh AR Baswedan pemuda keturunan arab di Indonesia mengadakan kongres di Semarang dan mengumandangkan Sumpah Pemuda Keturunan Arab.

D. Gedung
Bangunan di Jalan Kramat Raya 106, tempat dibacakannya Sumpah Pemuda, adalah sebuah rumah pondokan untuk pelajar dan mahasiswa milik Sie Kok Liong, Sejarah Terbentuknya Kongres Pemuda II.

Sejarah Terbentuknya Kongres Pemuda II
Sebagian peserta kongres pemuda II/leimena.org

Gedung Kramat 106 sempat dipugar Pemda DKI Jakarta 3 April-20 Mei 1973 dan diresmikan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada 20 Mei 1973 sebagai Gedung Sumpah Pemuda. Gedung ini kembali diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 Mei 1974. Dalam perjalanan sejarah, Gedung Sumpah Pemuda pernah dikelola Pemda DKI Jakarta, dan saat ini dikelola Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.[2]


NOTES:
[1] http://www.berdikarionline.com/lipsus/menuju-kongres-pemuda-pergerakan/20110520/sejarah-kongres-pemuda-dan-sumpah-pemuda.html

[2] foulcher.Keith.2000. Sumpah pemuda:makna penciptaan kebangsaan Indonesia.komunitas bambu : Jakarta

Daftar Pustaka
1. http://www.berdikarioonline.com
2. Foulcher. Keith. 2000. Sumpah pemuda: makna penciptaan kebangsaan Indonesia .Komunitas bambu. Jakarta

Sejarah Singkat Budi Utomo, Peran di Era Kebangkitan Nasional

Sejarah Singkat Budi Utomo - Berikut ini pembahasan mengenai sejarah Budi Utomo khususnya yang berkaitan dengan peran Budi Utomo di era kebangkitan nasional. Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang mempunyai sejarah panjang didalam meraih kemerdekaan dari tangaan penjajahnya. Beberapa negara yang pernah berkuasa di Indonesia menjadikan negara ini menjadi sebuah negara yang kaya akan sejarah yang penuh dengan perjuangan. 

Ditengah perjuangan didalam meraih kemerdekaan berbagai bentrokan dan peperangan yang tidak terelakkan terjadi di seluruh tanah air ini, mulai dari Sabang sampai dengan Merauke. Pertempuran yang terjadi antara penguasa dan masyarakat pribumu ini terjadi bertahun dan bahkan berabad-abad yang tentunya membuat banyak masyarakat Indonesia gugur dalam meraih kemerdekaan tersebut.

Selain didalam meraih kemerdekaan, keguguran masyarakat Indonesia juga terjadi ketika masyarakat Indonesia menjadi pekerja ataupun budak dari kebijakan-kebijakan dari negara-negara yang pernah berkuasa atas Indonesia ini. Negara-negara tersebut diantaranya adalah Spanyol dan Portugis, Belanda, Inggris dan juga Jepang. Diantara negara-negara tersebut memiliki masing-masing kebijakan, seperti Portugis dan Spanyol dengan perdagangan rempah-rempahnya. 

Namun kedua negara Eropa ini tidak lama berkuasa di Indonesia dikarenakan mereka kalah bersaing dengan negara Eropa lainnya seperti Belanda. Dikarenakan waktu berkuasa yang tidak lama maka penderitaan yang mereka buat terhadap masyarakat Indonesia tidak banyak. Jasa besar dari Portugis dan Spanyol adalah dengan menyebarkan agama Kristen katholik bagi masyarakat Maluku. Sebelum lebih jauh membahas mengenai hal ini mari kita lihat juga:

1) Organisasi boedi oetomo 
2) Sejarah budi utomo secara singkat 
3) Makalah sejarah budi utomo 
4) Sejarah budi utomo dan sumpah pemuda 
5) Sejarah berdirinya budi utomo 
6) Sumber sumber sejarah budi utomo 
7) Artikel makalah sejarah budi utomo 
8) Sejarah budi utomo pdf

Penjajah selanjutnya adalah negara Belanda, negara ini berkuasa dalam dua periode. Periode pertama adalah ketika mereka mengasai Indonesia dengan Kongsi dagang mereka yaitu, VOC. VOC ini berkuasa mulai dari tahun 1602-1800. Selanjutnya periode kedua 1821-1942. Negara belanda merupakan negara yang palin lama berkuasa di Indonesia, dan Belanda menjadi salah satu negara yang terlibat dalam sejarah besar negara ini. Kemudian penjajah selanjutanya adalah negara Perancis, Indonesia jatuh ketangan Prancis setelah perang yang terjadi antara Prancis dan juga Belanda, dan yang keluar sebagai pemenang adalah Prancis, kekalahan ini berdampah besar bagi Indonesia karena semua negara-negara kekuasaan Belanda menjadi negara kekuasaan Prancis, dan termasuklah negara Indonesia salah satunya. Namun kekuasaan Prancis di Indonesia tidak lama, hal ini dikarenakan Gubernur yang menjadi wakil dari Prancis yang bertugas sebagai pemerintah di Indonesia gagal dalam mempertahankan kekuasaannya dari negara Inggris. Nama gubernur tersbut adalah Jan Willem Janssen, yang menandatangani perjanjian Kapitulasi Tuntang yang berisikan jatuhnya Indonesia ke tangan Inggris.

Inggris menunjuk Raffels sebagai gubernur yang memerintah di Indonesia, namun dikarenakan beberapa masalah seperti lama periode memimpin yang singkat (1902-1904) , keterbatasan tenaga yang bekerja, krisis uang, serta masyarakat pribumi yang belum mengenal system ekspor membuat Raffels tidak lama berkuasa di Indonesia. Dan setelah pemerintahan Inggris, Indonesia kembali dijajaah oleh belanda yang berkuasa sejak 1905-1943 yang meninggalkan banyak penderitaan besar dan juga kesengsaraan yang menyakitkan bagi masyarakat Indonesia. Dan kemudian penjajahan di akhiri oleh Jepang.

Dari lamanya penjajahan tersebut membuat masyarakat Indonesia menjadi negara yang menderita, baik secara batin maupun jasmasi dan khusunya ekonomi. Tidak jarang masyarakat Indonesia yang meninggal hanya untuk melakukan kebijakan-kebijakan yang dibuat para penjajah. Penderitaan tersebut membuat suatu pelajaran yaitu menyatakan untuk melawan penjajah.

Berdirinya Boedi Oetomo
Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang mengalami penjajahan yang cukup lama. Negara-negara Eropa berlomba-lomba untuk menguasai Indonesia, hal ini dikarenakan negara Indonesia yang kaya akan hasil bumi seperti rempah-rempah dimasa VOC, dan juga batubara dimasa Jepang. Dimasa kekuasaan penjajah tersebut Indonesia terlibat didalam menjalankan kebijakan-kebijakan yang dijalankan oleh penjajah tersebut. seperti pada masa VOC, masyarakat pribumi sebagai penghasil rempah-rempahnya, namun orang Belanda termasuk kejam didalam system perdagangan tersebut. Hal ini dikarenakan masyarakat pribumi harus menjual hasil mereka kepada VOC dengan harga yang ditentukan oleh VOC sendiri.

Penderitaan masyarakat Indonesia tidak berhenti disitu Indonesia juga boleh dikatakan sebagai pekerja atau buruh dari kebijakan yang dibuat Belanda dengan tanam paksanya. Indonesia pada masa ini, hanya sebagai pekerja saja tanpa menikmati apa yang mereka hasilkan dari pekerjaan mereka tersebut. Penderitaan masyarakat Indonesia semakin diperparah ketika negara Jepang yang berkuasa di Indonesia. Kebijakan mereka yaitu kerja paksa atau yang dikenal dengan Rodi membuat masyarakat Indonesia banyak menjadi korban penyiksaan yang berakibat kematian.

Penyiksaan yang dilakukan oleh penjajah terkhusus Belanda, membuat masyarakat Indonesia menjadi tergerak untuk menentang kekuasaan negara belanda tersebut. Hal ini dikarenakan selama kekuasaan Belanda di Indonesia baik melalui VOC maupun melalui negara belanda hanya memberikan penderitaan bagi masyarakat Indonesia dan menyiksa masyarakat Indonesia. Akibat dari penderitaan inilah hati masyarakat tergerak untuk menetangnya.

Selain dari faktor penderitaan kekalahan Rusia melawan Jepang juga merupakan salah satu pendorong yang membuat masyarakat Indonesia berencana menentang kekuasaan penjajah. Kemenangan Jepang tersebut menumbuhkan keyakinan kepada pejuang-pejuang Indonesia bahwa mereka juga mampu mengalahkan negara Eropa yaitu Belanda yang berkuasa di Indonesia.

Ada dua faktor yang melatar belakangi terjadinya pergerakan nasional diantaranya lahirnya golongan terpelajar/cerdik pandai, dan timbulnya perasaan senasib sepenanggungan akibat penjajahan, timbulnya kesadaran pentingnya persatuan dan kesatuan, timbulnya dorongan untuk mengembalikan kejayaan bangsa dimasa lalu, seperti dulu masa sriwijaya dan Majapahit. Inilah yang menjadi faktor dari dalam terjadinya Pergerakan Nasional. Sedangkan faktor dari luarnya adalah kemenangan Jepang atas Rusia tahun 1905, yang membangkitkan semangat bangsa Asia melawan bangsa Eropa, masuknya paham paham baru. misalnya paham demokrasi dan liberalism, munculnya pergerakan nasional diberbagai negara di kawasan Asia.

Pergerakan Nasional dimulai dengan lahirnya salah satu organisasi yaitu organisani Budi Oetomo. Salah satu pendiri dan penggerak organisasi ini adalah Mas Ngabehi Wahidin Sudirohusodo. Beliau adalah salah seorang dokter rendahan yang termasuk golongan priyayi. Dengan tujuan untuk menigkatkan taraf hidup masyarakat pribumi dia mengadakan kempanye kepada orang-orang priyayi di pulau jawa. Namun hasil dari kampanye tidak sesuai dengan yang diharapkan namun walaupunun demikian sedikit dari hasil kampanyenya tersebut adalah mulai adanya niat untuk bekerjasama diantara golongan priyayi yang ada di Jawa Tengah. Pada awalnya peningkatan ini dilakukan dengan cara mebentuk Dana Pelajar.

Dalam perjalanan kampanyenya itu pada akhir tahun 1907, dr. Wahidin bertemu dengan Sutomo, pelajar STOVIA di Jakarta.[1]

Pada pertemuan itu mereka membahas tentang nasib masyarakat Indonesia yang selalu di tindas oleh penjajah. Dan cita-cita untuk mengangkat harkat dan martabat pada diri masyarakat Indonesia ternyata sudah tertanam dalam diri mahasiswa STOVIA. Dan setelah mengalami dukungan dari mahasiswa STOVIA kemudian rencana dr. Wahidin Sudirohusodo dalam mendirikan suatu dana diperluas jangkauannya. Kemudian pada tanggal 20 Mei 1908 dilakukan pertemuan di gedung STOVIA antara mahasiswa STOVIA dengan dr.Wahidin dan melahirkan sebuah organisasi yaitu Boedi Oetomo yang diketuai oleh Sutomo. Dan kemudian tanggal ini dikenal dan dirayakan sebagai hari kebangkitan nasional Indonesia.

Dari bulan Mei sampai awal Oktober 1908 Boedi Utomo yang baru muncul itu merupakan organisasi pelajar dengan para pelajar STOVIA sebagai intinya. Tujuannya untuk merumuskan secara samar-samar yaitu kemajuan masyarakat Hindia Belanda. [2]

Pada awalnya organisasi ini bergerak untuk masyarakat Jawa dan pulau Madura kemudian meluas untuk seluruh masyarakat hindia belanda tanpa memandang suku dan agama. Dan dikarenakan tugas mahasiswa STOVIA yang banyak selain menjadi mahasiswa mereka juga aktif berorganisasi, sehingga mahasiswa STOVIA ini bertugas sebagai penggerak yang menggerakkan mahasiswa STOVIA lainnya untuk ikut memikirkan nasib masyarakat Hindia Belanda. Sedangkan kaum tua bertugas sebagai pemimpin dari organisasi Boedi Oetomo sendiri.

Dikarenakan anggotanya dan pendukungnya adalah golongan priyayi maka Boedi Utomo berpikir dan mengambil kebijkan untuk memajukan pendidikan. Hal ini dengan tujuan untuk dapat tempat di pemerintahan colonial Belanda. Dan dikarenakan bekerja untuk Belanda makan bahasa belanda menjadi prioritas utamanya. Dengan demikian Boedi oetomo cenderung untuk memajukan pendidikan bagi golongan priyayi dari pada golongan pribumi pada umumnya. Dan slogan Boedi Utomo juga berganti dari perjuangan untuk mempertahankan kehidupan menjadi kemajuan secara serasi.[3]

Pada tanggal 3-5 Oktober 1908, Budi Utomo menyelenggarakan kongresnya yang pertama di Kota Yogyakarta. Hingga diadakannya kongres yang pertama ini, BU telah memiliki tujuh cabang di beberapa kota, yakni Batavia, Bogor, Bandung, Magelang, Yogyakarta, Surabaya, dan Ponorogo. Pada kongres di Yogyakarta ini, diangkatlah Raden Adipati Tirtokoesoemo (mantan bupati Karanganyar) sebagai presiden Boedi Utomo yang pertama. Semenjak dipimpin oleh Raden Adipati Tirtokoesoemo, banyak anggota baru Boedi Utomo yang bergabung dari kalangan bangsawan dan pejabat kolonial, sehingga banyak anggota muda yang memilih untuk menyingkir.

Pada masa itu pula muncul Sarekat Islam, yang pada awalnya dimaksudkan sebagai suatu perhimpunan bagi para pedagang besar maupun kecil di Solo dengan nama Sarekat Dagang Islam, untuk saling memberi bantuan dan dukungan. Tidak berapa lama, nama itu diubah oleh, antara lain, Tjokroaminoto, menjadi Sarekat Islam, yang bertujuan untuk mempersatukan semua orang Indonesia yang hidupnya tertindas oleh penjajahan. Sudah pasti keberadaan perkumpulan ini ditakuti orang Belanda. Munculnya gerakan yang bersifat politik semacam itu rupanya yang menyebabkan Budi Utomo agak terdesak ke belakang.

Kepemimpinan perjuangan orang Indonesia diambil alih oleh Sarekat Islam dan Indische Partij karena dalam arena politik Budi Utomo memang belum berpengalaman. Karena gerakan politik perkumpulan-perkumpulan tersebut, makna nasionalisme makin dimengerti oleh kalangan luas. Ada beberapa kasus yang memperkuat makna tersebut. Ketika Pemerintah Hindia Belanda hendak merayakan ulang tahun kemerdekaan negerinya, dengan menggunakan uang orang Indonesia sebagai bantuan kepada pemerintah yang dipungut melalui penjabat pangreh praja pribumi, misalnya, rakyat menjadi sangat marah.

Boedi Oetomo pernah menjadi organisasi yang mengirim banyak wakil didalam Volksraad yang didirikan oleh Belanda. Hal ini dikarenakan pemerinta Belanda merasa bahwa Boedi Utomo adalah satu-satunya organisasi yang dapat dipercaya. Pada masa ini Boedi Oetomo menjadi pengirim wakil kedua terbanyak di kursi Volksraad. Konsensi yang diberikan oleh Gubernur Jendral dalam masa itu dan pentingnya gerakan politik dikalangan massa menyebabkan Boedi Oetomo berkesimpulan bahwa mereka juga harus mencari dukungan massa. [4] 


Setelah dikepemimpinan Gubernur baru dimasa Mr. D Fock dan mengambil kebijakan dengan mengeluarkan dana pendidikan yang menurun drastic dari sebelumnya, akibatnya terjadi perpecahan ditengah Boedi Oetomo. Salah satu akibatnya adalah pada tahun 1924 dr. Soetomo membuat sebuah indonesische studieclub sebagai reaksi ketidak puasan terhadap Boedi Oetomo, yang kemudian nantinya berkembang menjadi Persatuang Bangsa Indonesia. Sebab utama dari pendirian Studieclub ini adalah dikarenakan organisasi nasionalis lainnya yaitu Kebangsaan Jawa dan Boedi Oetomo tidak seide lagi dengan perkembangan rasa kebangsaan waktu itu. Boedi Oetomo kembali terbuka untuk seluruh masyarakat Indonesia setelah kongres pada bulan Desember tahun 1930[5] .

Pada tingkat pertama secara samar-samar Boedi Oetomo ingin mengemukakan golongan yang sudah berpendidikan tentang kemajuan nasional dan budaya. Kemudian langkah yang diambil adalah pendidikan secara barat yang dianggap dapat mencapai pegawai colonial Belanda. Perubahan-perubahan yang terjadi di dalam Boedi Oetomo disebabkan oleh tidak adanya program yang jelas di dalam Boedi Oetomo dan juga tidak adanya pemimpin tunggal yang berwibawa seperti partai-partai lain[6].

Notes:
[1] Kartodirdjo Sartono, dkk. 1975. Sejarah Nasional Indonesia V. Jakarta : Depdikbud. hal 181
[2] Kartodirdjo Sartono, dkk. 1975. Sejarah Nasional Indonesia V. Jakarta : Depdikbud. hal 182
[3] Kartodirdjo Sartono, dkk. 1975. Sejarah Nasional Indonesia V. Jakarta : Depdikbud. hal 185
[4] Kartodirdjo Sartono, dkk. 1975. Sejarah Nasional Indonesia V. Jakarta : Depdikbud. hal 187
[5] Kartodirdjo Sartono, dkk. 1975. Sejarah Nasional Indonesia V. Jakarta : Depdikbud. hal 187
[6] http://en.wikipedia.org/wiki/Budi_Utomo

DAFTAR PUSTAKA
Kartodirdjo Sartono, dkk. 1975. Sejarah Nasional Indonesia V. Jakarta : Depdikbud
http://en.wikipedia.org/wiki/Budi_Utomo

Pendidikan Muhammadiyah Pasca Kebangkitan Nasional

Kelahiran dan Pendidikan Muhammadiyah pada Pasca kebangkitan nasional - Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi islam di Indonesia dan memiliki anggota yang tersebar di seluruh pelosok negeri Indonesia. Jadi Muhammadiyah tidak di ragukan lagi eksistensinya di Negara ini. Pada dasarnya Muhammadiyah bercorak organisasi yang berdasarkan agama Islam, tuntunan sunah Nabi, sosial dan Kebangsaan. Jadi tidaklah salah kita melihat kembali sejarah yang di alami organisasi Muhammadiyah, baik dari awal berdirinya, pada masa kebangkitan nasional maupun sampai pada saat sekarang ini, sehingga begitu menarik untuk kita ketahui.

Organisasi ini didirikan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 bertepatan dengan tanggal 18 Zulhijah 1330 H. yang didirikan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan atas saran yang di ajukan oleh murid-muridnya dan beberapa orang anggota Budi Utomo untuk mendirikan suatu lembaga pendidikan yang bersifat permanen.[1]

Riwayat hidup pendiri organisasi ini, Ahmad Dahlan sewaktu mudanya bernama Muhammad Darwis, Lahir tahun 1285H atau 1868M di kampung kauman Yogyakarta. Ayahnya ulama yang bernama KH. Abubakar bin KH. Sulaiman pejabat Khatib di masjid besar kesultanan Yogyakarta. Ibunya adalah putrid H. Ibrahim bin KH. Hassan pejabat penghulu kesultanan. Melihat dari garis keturunanya ini maka ia adalah anak orang yang berada dan berkedudukan baik dalam masyarakat.[2]

Semasa kecil Ahmad Dahlan tidak pergi kesekolah, sebagai gantinya Ahmad Dahlan diasuh serta di didik mengaji oleh atahnya sendiri. Dan kemudian ia meneruskan pelajaran mengkaji tafsir, hadis, fiqh dan bahasa arab kepada beberapa ulama yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya. Dengan bantuan kakaknya (nyai haji Saleh) maka pada tahun 1890 ia pergi ke mekah. Dengan beliau belajar dan menuntut ilmu di negeri mekah tersebut memuat jalan pikiran beliau terbuka lebar untuk membuat islam lebih maju di Indonesia di masa yang akan datang. Di mekah Ahmad Dahlan banyak bertukar pikiran dengan para ulama yang ada di sana sehingga membuat pengetahuanya tentang islam semakin bertambah dan beliau berniat untuk memajukan islam di tanah air ini.[3]

Maka setelah beliau pulang dari menuntut ilmu di Mekkah, beliau mengemukakan pendapatnya tentang yang ia inginkan di mulai dari keluarganya karena keluarga beliau merupakan keluarga yang kental akan agama maka usulan tersebut di sambut baik dan didukung oleh keluarganya sehingga pada tanggal 18 November1912 bedirilah organisasi islam yang bernama Muhammadiyah. Perkumpulan ini berusaha mengembalikan ajaran islam kepada sumber aslinya yaitu al Qur’an dan assunah, seperti yang di amanatkan oleh Rasulullsh SAW. Itulah sebabnya tujuan perkumpulan ini meluaskan dan mempertinggi pendidikan agam islam secara modern, serta memperteguh keyakinan tentang agama islam.[4]

Walaupun Muhammadiyah telah berdiri namun penyebarannya pada masa penjajahan belum bisa maksimal Karena yang seperti kita ketahui bersama setiap organisasi-organisasi yang ada di Indonesia ini di awasi ketat oleh pemerintahan kolonial Belanda tak terkecuali dengan Muhammadiyah, di karenakan organisasi ini bersifat ke islaman Pemerintahan belanda mengawasi organisasi ini karena bertentangan dengan kepercayaan dan agama yang di bawa oleh para penjajah. sehingga pada saat itu organisasi ini hanya berkembang di Yogyakarta, pengajaran dan pendidikan islam biasanya di berikan di masjid-masjid dan langgar-langgar. Pada saat penjajahan masyarakat pribumi dan anak-anak pribumi tidak dapat dengan mudah mengeyam pendidikan dan bersekolah, hanya anak-anak tertentu saja yang boleh bersekolah oleh pemerintah Belanda dengan adanya tindakan yang di lakukan oleh Ahnmad Dahlan memberikan pendidikan agama secara cuma-cuma terhadap anak-anak pribumi, sehingga masyarakat banyak yang mendukung tindakan tersebut sehingga Muhammadiyah memiliki anggota yang cukup banyak dan mendapat respon yang positif dari masyarakat. Akan tetapi daerah operasinya hanya di wilayah Yogyakarta saja.

Daerah operasi organisasi Muhammadiyah mulai di luaskan setelah tahun 1917. Pada tahun itu Budi Utomo mengadakan kongresnya di Yogyakarta (malahan rumah KHA Dahlan di buat sebagai pusat kongres tersebut) ketika KHA Dahlan telah dapat mempesona kongres itu melalui tablig yang di lakukanya sehingga pengurus Muhammadiyah menerima permintaan dari berbagai tempat di jawa untuk membuka cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh jawa. Sehingga pada tahun 1920 Muhammadiyah mulai di kembangkan di luar Yogyakarta.[5]

Sebagaimana dikemukakan terdahulu bahwa tujuan semula Muhammadiyah adalah untuk menyebarluaskan agama islam yang kemudian berkembang menjadi meluaskan pendidikan agama islam dan memupuk perasaan agama para anggotanya. Salah satu jalan yang di tempuh untuk mencapai tujuan tersebut adalh dengan mendirikan sekolah di seluruh tanah air. Tujuan pendidikanya ialah terwujudnya manusia muslim, berahlak, cakap, percaya diri sendiri, berguna bagi masyarakat dan Negara. Muhammadiyah mendirikan berbagai jenis dan tingkat sekolah, serta tidak memisah-misahkan antara pelajaran agama dengan pelajaran umum. Dengan demikian diharapkan bangsa Indonesia dapat di didik menjadi bangsa yang utuh berkpribadian, yaitu pribadi yang berilmu pengetahuan umum luas dan agama yang mendalam.

Pada zaman pemerintahan Kolonial Belanda, sekolah-sekolah yang dilaksanakan Muhammadiyah adalah:

- Sekolah umum
Taman kanak-kanak (Bustanul Atfal), Vervolg School 2 tahun, Schakel School 4 tahun, HIS 7 tahun, Mulo 3 tahun, AMS 3 tahun dan HIK 3 tahun. Pada sekolah-sekolah tersebut di ajarkan pendidikan agam islam sebanyak 4 jam pelajaran seminggu.

- Sekolah Agama
Madrasah Ibtidaiyah 3 tahun, Tsanawiyah 3 tahun, Mualimin/Mualimat 5 tahun, Kulliatul Muballigin (SPG Islam) 5 tahun. Pada madrasah-madrasah ini diberikan mata pelajaran pengetahuan umum.

Sekolah-sekolah tersebut ternyata mampu berjalan sebagaimana mestinya. Oleh karena itu jika di perhatikan lebih jauh, maka pendidikan yang di selengarakan Muhammadiyah mempunyai andil yang sangat besar vagi bangsa dan Negara, dan tentu saja menghasilkan keuntungan-keuntungan di antaranya:
1) Menambah kesadaran nasional bangsa Indonesia melalui ajaran islam.
2) Melalui sekolah-sekolah Muhammadiyah ide-ide reformasi islam secara luas di sebarkan.
3) Mempromosikan kegunaan ilmu pengetahuan modern. [6]

Pada masa Indonesia merdeka, Muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah/madrasah-madrasah berlipat ganda banyaknya dari masa penjajahan Belanda dahulu. Menurut siaran Muhammadiyah (edisi 1957) jumlah sekolah agama Muhammadiyah adalah sebagai berikut:
1) Madrasah Ibtidaiyah 412 buah
2) Madrasah Sanawiyah 40 buah 
3) Madrasah Diniyah (Awaliyah) 82 buah
4) Madrasah Mu’allimin 73 buah
5) Madrasah pendidikan guru agama 75 buah. [7]

Dengan adanya sekolah-sekolah yang didirikan oleh Muhammadiyah dapat menciptakan generasi-generasi yang memiliki pengetahuan dan daya fikir yang luas sehingga hal ini dapat menciptakan semangat kebangkitan nasional terhadap genersi muda tersebut. Jadi dapat di katakana bahwa organisasi Muhammadiyah mampu memberikan kontribusi terhadap kebangkitan nasional Indonesia. 

Memperhatikan prestasi kader Muhammadiyah tak di sangsikan lagi kesatuan nasional ini salahsatunya dianyam olek aktor intelektual Muhammadiyah di berbagai daerah di tanah air. Bahkan ketika kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan pun Muhammadiyah tak kenal lelah terus memberikan kontribusinya bagi kemejuan bangsa dan kedaulatan NKRI. Menelaah sejarah Nasional Indonesia tidak akan sempurna tanpa mengkaji gerakan Muhammadiyah. Dan menulusuri jejak sejarah Muhammadiyah dari zaman ke zaman, pantas pula bila 20 mei di jadikan momentum kebangkitan nasional. Tentunya selain kelahiran Boedi Oetomo (BO) yang hanya berusia 30 tahunan dengan pengaruhnya seluas Jawa dan karena 20 Mei menjadi titik tolak perkembangan Muhammadiyah yang memberikan dampak perubahan social nyata di tanah air Indonesia. Bercermin dari Kebangkitan Nasional di atas, spirit kebangkitan nasional adalah jiwa kemandirian dan membangun harga diri bangsa di hadapan bangsa asing. Kedaulatan bangsa sendiri adalah harga mati bagi tetap tegaknya NKRI. Karena memperingati Kebangkitan Nasional kali ini sejatinya kita seluruh elemen bangsa terlebih pemerintahnya perlu melakukan evaluasi sudah sejauhmana kita menjaga negeri ini dengan membangun kemerdekaan sejati dan kemendirian bangsa. Karena spirit Kebangkitan Bangsa adalah cita-cita kemerdekaan bangsa. Kami cinta perdamaian, tetapi kami lebih cinta kemerdekaan. Inilah spirit yang tercermin dalam pembukaan UUD 1945,” maka segala bentuk penjajahan di atas dunia harus di hapuskan”. [8] 

Notes:
[1] Dra. Zuharini, dkk.1992. Sejarah Pendidikan Islam. PT Bumi Aksara. Jakarta. Hal : 171
[2] Drs. Hasbullah.1995 Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta. Hal : 94
[3] Drs. Hasbullah.1995 Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta. Hal : 95
[4] Drs. Hasbullah.1995 Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta. Hal : 95
[5] Dra. Zuharini, dkk.1992. Sejarah Pendidikan Islam. PT Bumi Aksara. Jakarta. Hal : 172
[6] Drs. Hasbullah.1995. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta. Hal : 101
[7] Dra. Zuharini, dkk.1992. Sejarah Pendidikan Islam. PT Bumi Aksara. Jakarta. Hal : 177
[8] http://id.wikipedia.org/wiki/peranmuhammadiyah_dalam_kebangkitan_nasional


Daftar pustaka
Drs. Hasbullah.1995. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada
Dra. Zuharini, dkk.1992. Sejarah Pendidikan Islam.Jakarta : PT Bumi Aksara
http://id.wikipedia.org/wiki/peranmuhammadiyah_dalam_kebangkitan_nasional