Showing posts with label Brunei Darussalam. Show all posts
Showing posts with label Brunei Darussalam. Show all posts

Sejarah Brunei Darussalam, Kesultanan Brunei

Sejarah Singkat Kesultanan Brunei Darussalam - Sebelum mengalami penjajahan, Brunei merupakan sebuah kerajaan yang sangat besar. Wilayahnya mencakup bagian utara Kalimantan hingga Filipina bagian selatan. Brunei tumbuh sebagai kerajaan yang sangat kuat dan mengalami kejayaan pada abad keempat belas hingga abad keenam belas. Sayangnya, puncak kejayaan tersebut tidak dapat berlangsung lama karena adanya pengaruh kebudayaan dari bangsa Eropa. Pengaruh budaya tersebut secara tidak langsung telah mengikis rasa kebangsaan di dalam diri masyarakat Brunei saat itu, akibatnya banyak terjadi perpecahan di tingkat regional.

Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh para penjajah untuk menyerang Brunei dan menjadikannya sebagai daerah koloni. Awalnya, Burnei memang cukup tangguh dalam menghadapi para penjajah tersebut. Serangan Spanyol ke kawasan tersebut berhasil dipatahkan oleh pasukan Brunei, namun kondisi internal Brunei yang semakin carut marut membuatnya menjadi rapuh. Banyaknya perselisihan antar para bangsawan, perebutan kekuasaan hingga pembagian wilayah untuk para pangeran membuat kerajaan tersebut mudah untuk dipecah belah.

Kondisi tersebut diperparah dengan hilangnya sebagian kekuasaan Brunei yang diakibatkan oleh pengkhianatan Rajah Putih dari Sarawak. Brunei menjadi semakin mengecil dan memisah menjadi dua bagian. Kekuasaannya pun tak lagi berlangsung lama, Brunei akhirnya takluk ditangan Inggris. Wilayah yang tadinya seluas Kalimantan Utara dan Filipina Selatan, kini menjadi kecil mungil sebagaimana yang ada saat ini.

Tulisan ini akan membahas tentang sejarah keberadaan Kesultanan Brunei atau yang biasa dikenal dengan nama Brunei Darussalam. Untuk memudahkan dalam pembahasan, tulisan ini akan membagi sejarah Brunei kedalam tiga bagian; (1) Era Pra-Kesultanan (Sebelum Abad ke-14), (2) Era Kesultanan Brunei (1370-1843), dan (3) Era Penjajahan Inggris (1847-1984).

Era Pra-Kesultanan (sebelum abad ke- 14)
Sejarah Brunei sebelum era kesultanan tidak banyak diketahui. Hal ini terjadi mengingat minimnya informasi dan bukti-bukti sejarah yang menceritakan terkait masalah kehidupan dan kondisi pemerintahan di Brunei saat itu. Banyak ahli sejarah yang menyakini bahwa sebelum era kesultanan yang ada saat ini, Brunei telah memiliki suatu sistem pemerintahan tersendiri.

Kerajaan Vijayapura
Keyakinan ini didasari oleh berbagai sumber dari kerajaan China dan Nusantara yang menyebutkan bahwa pada masa itu telah ada sebuah kerajaan yang mengelola kawasan Brunei. Sumber dari kerajaan Sriwijaya menyebutkan bahwa pada abad ke-7 di bagian barat laut Kalimantan terdapat sebuah kerajaan yang bernama Vijayapura. Kerajaan Vijayapura ini berhasil ditaklukkan dibawah kekuasaan kerajaan Sriwijaya yang berlokasi di pulau Sumatera. Namun bukti arkeologi menunjukkan bahwa kerajaan tersebut berada dibawah pengaruh kerajaan China, ini diperlihatkan dari penemuan koin logam China yang terbit pada abad ketujuh di sekitar Brunei.

Kerajaan Po-ni
Sumber kuno lain menyebutkan bahwa pada abad ke-10, kawasan tersebut dikuasai oleh sebuah kerajaan yang bernama Po-ni. Kerajaan Po-ni ini telah melakukan kontak dengan Dinasti Song yang ada di China dan beberapa kali melakukan hubungan dagang dengan Dinasti Song. Teks sejarah dari Dinasti Song dan bukti arkeologi menunjukkan bahwa kerajaan Po-ni sangat dipengaruhi oleh peradaban Hindu seperti yang ditularkan oleh kerajaan Hindu yang terletak di pulau Jawa dan Sumatera. Sistem penulisan yang digunakan menganut naskah Hindu Jawa dan Sumatera, bukan Hindu India. Ini menunjukkan bahwa kerajaan Po-ni tidak memiliki hubungan yang erat dengan kerajaan India.

Selanjutnya, dalam kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Prapanca pada tahun 1365 menyebutkan bahwa kerajaan tersebut takluk dibawah kerajaan Majapahit.[1] Dalam versi Negarakertagama, kerajaan yang ditaklukkan oleh Majapahit tersebut bernama Berune. Namun diperkirakan bahwa penaklukan yang dilakukan oleh Majapahit tersebut tidak lebih dari hubungan simbolis. Disebutkan bahwa setiap tahunnya, kerajaan Berune mengirimkan minuman yang terbuat dari buah pinang sebagai upeti kepada kerajaan Majapahit.

Hubungan kerajaan Po-ni dengan kawasan lain juga semakin berkembang. Pada tahun 1370-an, kerajaan ini menjalin hubungan dengan Dinasti Ming yang ada di China, Sejarah Kesultanan Brunei. Hubungan kedua kerajaan diperkirakan sangat akrab, hal ini diperlihatkan dengan adanya kunjungan penguasa Po-ni, Ma-na-jih-chia-na ke ibukota Nanjing pada tahun 1408 dan meninggal dunia disana. Sejak saat itu kehidupan kerajaan Po-ni tidak banyak diketahui karena pada tahun 1424, Kaisar Hongxi dari Dinasti Ming menghentikan program maritimnya sehingga sejak saat itu tidak ada lagi catatan terkait kerajaan Po-ni.

Era Kesultanan brunei (1370-1843)
Diceritakan bahwa menjelang kehancuran Dinasti Yuan, China mengalami kekacauan yang sangat parah. Kondisi ini memaksa banyak orang China melarikan diri. Orang-orang yang tinggal di sepanjang pesisir Fujian juga turut melarikan diri dengan dipimpin oleh Ong Sum Ping. Mereka melarikan diri ke arah timur Kalimantan dan masuk ke salah satu sungai disana. Saat itu sempat terjadi kecelakaan yang membuat salah seorang anggota kehilangan lengannya. Konon, orang-orang Melayu yang tinggal disekitar sungai melihatnya dan akhirnya menamai sungai tersebut dengan nama Kinabatangan karena menjadi lokasi hilangnya lengan salah seorang anggota tersebut.

Ong Sum Ping dan para pelarian lainnya mulai mendirikan pemukiman dan membangun di sekitar sungai Kinabatangan. Ternyata pembangunan yang dilakukan oleh Ong Sum Ping memiliki dampak yang sangat besar bagi kehidupan disana. Kawasan tersebut mengalami peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan. Kondisi ini membuat Ong Sum Ping diangkat sebagai pemimpin di kawasan tersebut. Orang Melayu memberinya gelar sebagai Raja sedangkan orang China memberinya gelar "Chung Ping" yang berarti Jenderal.

Sultan Muhammad Shah
Kawasan tersebut awalnya dikuasai oleh Kesultanan Brunei, namun karena adanya invasi dari Kesultanan Sulu, kawasan tersebut menjadi tidak terurus. Kekuasaan Kesultanan Brunei pun hanya terbatas pada bagian utara Kinabatangan, sementara kawasan lainnya tidak dapat dikontrol karena adanya perebutan kekuasaan diantara sesama penduduk melayu lokal. Keberhasilan Ong Sum Ping tersebut membuat Sultan Brunei, Muhammad Shah yang saat itu baru naik tahta menjadi tertarik untuk menyatukan kekuasaan dengan Ong Ping.

Penyatuan kekuasaan tersebut ditandai dengan pernikahan antara Putri Sultan dengan Ong Sum Ping. Pernikahan tersebut membuat Ong Sum Ping mendapat gelar Maharaja Lela. Selain itu, Muhammad Shah juga menikahkan saudaranya, Sultan Ahmad dengan adik perempuan Ong Sum Ping yang kemudian mendapat gelar Putri Kinabatangan. Kedua pernikahan ini memberikan dampak yang luar biasa bagi perkembangan Kesultanan Brunei.

Dengan bantuan Ong Sum Ping dan militer China, Kesultanan Brunei berhasil mengusir invasi dari Kesultanan Sulu dan terhindar dari kehancuran total. Pengaruh Ong Sum Ping di Brunei ternyata sangat besar da berdampak pada pertumbuhan China di Brunei. Hampir di setiap kota dan desa di Brunei telah dibangun perkampungan China dan berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan disana. Salah satu kota peninggalan China yang masih ada saat ini adalah keberadaan kota Kinabalu yang menjadi sentra pemukiman China.

Sultan Abdul Majid Hassan dan Sultan Ahmad
Pada tahun 1402, Sultan Muhammad Shah meninggal dunia dan digantikan oleh anaknya, Sultan Abdul Majid Hassan. Adapun Ong Sum Ping diangkat sebagai Bupati. Namun pemerintahan Abdul Majid Hassan ternyata tidak berlangsung lama. Pada tahun 1406, Sultan Abdul Majid Hassan meninggal dunia. Pasca kepergiannnya, Brunei mengalami kebuntuan politik dan vacum of power selama dua tahun. Pada masa ini terjadi perebutan kekuasaan diantara para bangsawan dan dimenangi oleh Sultan Ahmad, saudara Sultan Muhammad Shah yang juga adik ipar Ong Sum Ping.

Pada masa ini, Ong Sum Ping telah memasuki usia lanjut. Dia mengirimkan seorang diplomat dan dikawal oleh pasukan menuju ke China untuk memberitahu kepada Kaisar Yong Le dari Dinasti Ming tentang kondisi Brunei dan rencana kepulangan Ong Sum Ping ke China. Kaisar Yong Le senang dan melakukan penyambutan besar atas kedatangannya. Ong Sum Ping akhirnya meninggal dunia dan dimakamkan di China. Kekuasaan Ong Sum Ping di Brunei dilanjutkan oleh anaknya, Awang. Dia berhasil menjalankan kekuasaan politik dengan baik dan memiliki legitimasi yang kuat karena membawa nama besar ayahnya. Cerita tentang Awang selanjutnya tidak banyak diketahui.

Begitu besarnya peran Ong Sum Ping terhadap Brunei membuat banyak masyarakat Brunei yang mempercayai bahwa Ong Sum Ping merupakan salah satu pendiri Kesultanan Brunei. Namun pandangan tersebut tidak disepakati oleh kalangan Kesultanan karena Sultan menganut asas Melayu, Islam dan Beraja. Meskipun demikian - Sejarah Brunei Darussalam, Kesultanan Brunei, Kesultanan masih sangat menghormati Ong Sum Ping. Hal ini ditunjukkan dengan pemberian nama jalan Ong Sum Ping di Ibukota Bandar Seri Begawan dan pembuatan museum yang berisi artefak Ong Sum Ping.

Sultan Syarif Ali
Kembali ke masalah Kesultanan. Sementara itu, Sultan Ahmad menikahkan putrinya dengan Sultan Syarif Ali, seorang pria yang berasal dari Semenanjung Arab dan masih termasuk kerabat Nabi Muhammad. Sultan Syarif Ali inilah yang akhirnya menjadi Sultan setelah Sultan Ahmad.

Dibawah kepemimpinan Sultan Syarif Ali, Brunei mengalami kemajuan yang sangat baik. Kesultanan Brunei mulai melakukan ekspansi secara bertahap dan melakukan perluasan pengaruh ke beberapa negara. Kemajuan Brunei semakin pesat dengan jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511. Sistem monopoli yang diterapkan oleh Portugis membuat sebagian besar pedagang mengalihkan perdagangannya ke pelabuhan Brunei. Banyaknya pedagang muslim yang masuk ke Brunei membuat pertumbuhan Islam di Brunei berlagsung dengan sangat cepat.

Satu hal yang penting untuk dicatat adalah Kesultanan Brunei menganut sistem Thalassocracy, sebuah sistem dimana fungsi Kesultanan bukanlah untuk mengendalikan kepemilikan tanah tetapi mengendalikan perdagangan. Masyarakat menganut sistem hierarkis dimana Sultan sebagai pucuk pemimpinnya. Kekuasaan Sultan terbatas dan diawasi oleh sebuah Dewan yang memiliki fungsi mengatur dan mengadakan suksesi Sultan.

Sultan Bolkiah
Kesultanan Brunei mengalami kejayaan pada masa Sultan Bolkiah. Pada masa ini kekuasaan Brunei semakin meluas dari Serawak, Sabah, Kepulauan Sulu hingga ujung barat laut Kalimantan. Pengaruh Sultan juga menyebar hingga ke Filipina dan memasukkan Teluk Manila kedalam koloninya. Selain itu Sultan juga menjalin hubungan yang baik dengan Raja di Jawa dan Malaka. Kemakmuran ini dinikmati oleh semua rakyat Brunei, hampir semua rakyat memiliki rumah kayu yang berdiri diatas air, sebuah simbol kehidupan megah pada masa itu.

Pada tahun 1521, Antonio Pigafetta, seorang navigator dalam ekspedisi Ferdinand Magellan menjadi orang Eropa pertama yang mengunjungi Brunei. Dalam perjalanannya, Pigafetta menggambarkan Brunei sebagai sebuah kota yang sangat menakjubkan. Setiap tamu besar yang akan bertemu dengan Sultan selalu diantar menggunakan Gajah dengan tempat duduk yang berlapiskan kain sutra. Penduduk istana menggunakan pakaian yang terbuat dari kain sutera bersulam emas, dihiasi dengan mutiara dan memiliki banyak cincin dari batu mulia.

Para pengunjung juga disuguh makanan menggunakan piring porselen, sebuah alat makan yang begitu megah pada masa itu. Istana sultan juga dikelilingi oleh tembok batu bata yang dilengkapi oleh tiang kuningan dan meriam besi. Era kemakmuran berlangsung hingga Sultan kesembilan yakni Sultan Hassan.

Setelah berakhirnya kepemimpinan Sultan Hassan, Brunei kehilangan sosok pemimpin dan mengalami penurunan. Penurunan tersebut disebabkan oleh berbagai hal. Diantaranya adalah pengaruh kekuasaan Eropa yang begitu menonjol di daerah, banyaknya terjadi perebutan kekuasaan di antara kaum bangsawan, kemunduran sistem perdagangan tradisional, serta perpecahan diantara Kesultanan di Asia Tenggara.

Hubungan dengan Portugis
Ekspedisi yang dilakukan oleh Ferdinand Magellan tersebut menjadi titik tolak dinamika hubungan antara Brunei dengan bangsa Eropa. Diantara beberapa bangsa Eropa yang menjalin hubungan dengan Brunei, dapat dikatakan bahwa Portugis merupakan satu-satunya yang tidak banyak membuat masalah.

Hubungan Brunei dengan Portugis cenderung hangat dan tidak terlalu banyak masalah, keduanya hanya fokus pada masalah perdagangan dan ekonomi. Portugis tidak terlalu banyak mencampuri urusan dalam negeri Brunei dan cenderung bersahabat dengan Sultan. Namun bukan berarti keduanya sama sekali tidak memiliki masalah. Beberapa kali tercatat insiden yang melibatkan keduanya seperti saat tahun 1536 Portugis melakukan penyerangan terhadap muslim di Maluku, Sultan marah dan melakukan pengusiran terhadap Duta Besar Portugis.

Portugis juga sempat beberapa kali bentrok dengan Brunei karena dalam beberapa peperangan, pihak Kesultanan seringkali ikut membantu musuh dalam melawan Portugis. Para pedagang Brunei juga sering dianggap melanggar perjanjian karena melakukan aktivitas perdagangan di kawasan Ligor dan Siam. Namun konflik yang terjadi diantara keduanya hanyalah berupa insiden berskala kecil dan dapat dengan cepat mereda.

Konflik dengan Spanyol
Berbeda dengan Portugis, hubungan antara Brunei dengan Spanyol cenderung sering memanas. Pada tahun 1565 terjadi insiden dan pertempuran di perairan antara Brunei dan Spanyol. Pada tahun 1571, hubungan semakin memanas ketika Spanyol berhasil merebut Manila dari tangan Brunei. Hubungan keduanya menjadi semakin keruh dan Brunei sempat memunculkan sebuah ancaman untuk melakukan penyerangan dengan menggunakan armada besar dalam rangka merebut kembali kota tersebut.

Namun karena pertimbangan politis dan berbagai pertimbangan lainnya, penyerangan tersebut batal untuk dilaksanakan dan Manila dibiarkan untuk jatuh ke tangan Spanyol.[2] Pada tahun 1578, hubungan keduanya kembali memburuk karena Spanyol mengambil Kesultanan Sulu dari Brunei. Tak hanya itu, Spanyol bahkan juga melakukan penyerangan terhadap Kesultanan Brunei.

Spanyol menuntut Brunei untuk tidak menyebarkan dakwah Islam di Filipina karena dianggap mengganggu kegiatan missionaris dalam menyebarkan ajaran Kristen.[3] Selain itu Spanyol juga menuntut Brunei agar membuka diri terhadap para missionaris di kawasan tersebut. Sayangnya upaya Spanyol untuk menduduki kawasan Brunei tidak membuahkan hasil karena negeri itu sedang dilanda oleh penyakit disentri dan kolera.

Kedua penyakit tersebut membuat Spanyol mengalami kerugian besar dan akhirnya meninggalkan Brunei dan mundur kembali ke Manila pada tanggal 26 Juni 1578.[4] Spanyol begitu kuat dalam menghadapi senjata tetapi lemah dalam menghadapi penyakit, pendudukan atas Brunei pun akhirnya hanya bertahan selama 72 hari.[5] Kerugian yang diderita oleh Brunei akibat pertempuran tersebut tidak terlalu besar karena tidak lama kemudian Kesultanan Sulu berhasil direbut kembali oleh Brunei, namun sayangnya Brunei juga harus kehilangan Luzon yang biasa menjadi tempat pijakan karena direbut oleh Spanyol.

Era Penjajahan Inggris (1847-1984)
Kekalahan Brunei dalam melawan Spanyol membawa petaka bagi kondisi dalam negeri Brunei. Perpecahan antar daerah sudah tidak dapat dihindarkan lagi, banyak daerah yang menggunakan momentum tersebut untuk melakukan pemberontakan dan menuntut kemerdekaan dari Brunei. Namun karena Kesultanan memiliki sikap yang sangat adil terhadap rakyatnya, pemberontakan pun dapat diredam dengan cukup mudah.

Namun pertahanan Brunei akhirnya jebol juga. Tiga abad kemudian, perpecahan dan pemberontakan kembali terjadi di tanah Brunei. Pemberontakan yang cukup terkenal terjadi pada masa Sultan Omar Ali Saifuddin II. Tepatnya pada tahun 1839 terjadi pemberontakan di Serawak, pemberontakan ini cukup merepotkan Kesultanan namun atas bantuan James Brooke, pemberontakan akhirnya berhasil dipadamkan.

Atas jasanya membantu memadamkan pemberontakan, Brooke diangkat sebagai gubernur Serawak dan mendapat gelar "Rajah Putih". Namun ternyata Brooke memiliki maksud tersembunyi, sejak menjabat sebagai gubenur, wilayahnya semakin diperluas secara bertahap. Bahkan ia pernah meminta pemerintah Inggris untuk meneliti seberapa besar potensi Brooke untuk dapat menguasai Brunei, akan tetapi hasilnya mengecewakan. Rekomendasi dari pemerintah Inggris menunjukkan bahwa meskipun Brunei memiliki pemerintah yang sangat buruk, namun rakyatnya memiliki loyalitas dan identitas nasional yang sangat tinggi sehingga peluang Brooke untuk menguasai Brunei kecil.

Maksud tersembunyi ini akhirnya tercium juga oleh Sultan. Pada tahun 1843 terjadi konflik terbuka antara Brooke dan Sultan yang berakhir dengan kekalahan di pihak Brunei. Sultan akhirnya terpaksa mengakui kemerdekaan Serawak. Lepasnya Serawak membuat gerakan Inggris menjadi semakin mudah karena memiliki kawasan yang lebih strategis.

Pada tahun 1846, Brunei Town diserang oleh pasukan Inggris. Ibukota Brunei tersebut ditaklukan dengan mudah oleh pasukan Inggris. Sultan Saifuddin II pun ditangkap dan dipaksa untuk menandatangani perjanjian untuk mengakhiri pendudukan Inggris atas kota Brunei. Pada tahun yang sama, Sultan Saifuddin II kembali dipaksa untuk menandatangani Perjanjian Labuan yang berisi penyerahan Labuan kepada Inggris. Pada tahun 1847, Brunei menandatangani Perjanjian Perdagangan dan Persahabatan dengan Inggris. Pada tahun 1850, Brunei menandatanganu perjanjian serupa dengan Amerika Serikat.

Wilayah kekuasaan Brunei pun semakin mengecil, sedikit demi sedikit Sultan dipaksa untuk menyerahkan wilayahnya kepada Serawak. Pada tahun 1877, Inggris juga memaksa Brunei untuk menandatangani perjanjian penyewaan lahan yang ada disebelah timur (kini bernama Sabah) kepada Perusahaan Borneo Utara milih Britania Raya. Wilayah Brunei yang awalnya begitu luas pun berubah menjadi kecil mungil akibat dikikis oleh Inggris.

Sejarah Brunei Darussalam, Kesultanan Brunei
Kesultanan Brunei/lubukgambir.wordpress.com

Kekuasaan Brunei yang sangat terbatas membuatnya menjadi sangat lemah, akibatnya Brunei menjadi negara yang lemah dan tak berdaya - Sejarah Brunei Darussalam. Kondisi tersebut membuat Sultan Hasyim Alilul Alam Aqamaddin menandatangani perjanjian degan Inggris pada tahun 1888 yang meletakkan Brunei di bawah perlindungan Inggris. Ketidakberdayaan Brunei semakin terlihat saat Sultan mengirimkan permintaan kepada pemerintah Inggris agar mengirimkan warga Inggris ke Brunei untuk membantu menjalankan pemerintahan.[6]

Permintaan tersebut baru dipenuhi pada tahun 1906, warga Inggris mulai dikirimkan untuk membangun Brunei. Sebuah kantor bea cukai dan pertanahan mulai dibangun, kepolisian Brunei juga mulai dibangun. Pada tahun 1911, Inggris juga mendirikan sekolah melayu. Kemakmuran Brunei mulai kembali terlihat sejak ditemukannya minyak di Seria pada tahun 1929.

Pembangunan di Brunei sempat terhenti saat terjadi Perang Dunia Kedua. Brunei diduduki oleh Jepang pada tahun 1941-1945. Inggris tidak mampu mempertahankan Brunei dari serangan Jepang meskipun sebenarnya Inggris masih memiliki perjanjian protektorat dengan Brunei.[7]

Daftar Pustaka

[1] http://www.ari.nus.edu.sg/article_view.asp?id=172
[2] Frankham, Steve. 2008. Footprint Borneo. Footprint Guides. Hlm. 278
[3]Ibid. Hlm. 280
[4] Atiyah, Jeremy. 2002. Rough guide to Southeast Asia. Rough Guide. Hlm. 71.
[5] Saunders, Graham E. 2002. A history of Brunei. Routledge. Hlm. 54-60.
[6] Hussainmiya, B.A. (2006) Brunei: Revival of 1906: A Popular History. Bandar Seri Begawan: Brunei Press Sdn. Bhd.
[7] Lihat:http://www.bt.com.bn/en/life/2008/06/29/brunei_under_the_japanese_occupation

Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Brunei Darussalam

Masuk dan Berkembangnya Islam di Brunei Darussalam - Sejarah yang akan kita pelajari kali ini masih berkaitan dengan sejarah perkembangan Islam di dunia yaitu khususnya Islam yang berada di negara Brunei Darussalam. Pada kesempatan ini kita akan membahas memerapa poin dalam kaitannya dengan proses masuknya Islam ke negara tersebut dan juga mengenai perkembangannya.

Brunei Darussalam adalah sebuah negara kecil yg sangat makmur. Di bagian utara terdapat pulau Borneo (Kalimantan) dan berbatasan dengan Malaysia. Secara geografis Brunei adalah suatu negara di pantai Kalimantan bagian utara, berbatasan dengan laut Cina Selatan, di sebelah utara dan dengan Serawak di sebelah Selatan barat dan timur.

Catatan tradisi lisan diperoleh dari Syair Awang Semaun yang menyebutkan Brunei berasal dari perkataan baru "Nah" yaitu setelah rombongan klan atau suku sakai yang dipimpin Pateh Berbei pergi ke sungai Brunei mencari tempat untuk mendirikan negeri baru. Setelah mendapatkan kawasan tersebut yang memiliki kedudukan yang sangat strategis yaitu diapit oleh bukit dan air mudah untuk dikenali serta untuk transportasi dan kaya ikan sebagai sumber pangan di sungai, maka mereka mengucapkan perkataan baru yaitu "nah" yang berarti tempay itu sangat baik, berkenanaan dan sesuai dihatu mereka untuk mendirikan negeri yang mereka imginkan.[1]

Kemudian perkataan baru "nah" itu lama kelamaan berubah menjadi "Brunei". Diperkirakan islam di Brunei datang pada tahun 977 M melalui jalur timur oleh pedagang-pedagang dari negeri Cina. Catatan bersejarah membuktikan penyebaran islam di Brunei adalah batu tersilah. Catatan pada batu ini menggunakan bahasa melayu dan huruf arab. Dengan penemuan itu membuktikan adanya pedagang arab yang datang ke Brunei dan Selatan Borneo untuk menyebarkan dakwah islam.

Selain itu ada juga yang menyatakan bahwa islam diperkirakan masuk pada abad ke-13 M yaitu ketika Sultan Mahmud Shah pada tahun 1368 telah memeluk islam akan tetapi jauh sebelum itu, sebenarnya terdapat bukti bahwa islam telah berada di Brunei Darussalam ini. Islam belum cukup berkembang secara luas, barulah ketika Awang Khalak Betatar memeluk islam dengan gelar Sultan Muhammad Shah. Islam mulai berkembang secara luas. Ada 3 teori yang menyatakan munculnya kerajaan Brunei Darussalam:

  • Munculnya Kesultanan Melayu yaitu ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis pada taun 1511 M
  • Kesultanan Melayu Islam Brunei muncul tidak lama selepas jatuhnya Kerajaan Melaka kira-kira pada awal abad ke-15 M
  • Kesultanan Melayu Islam Brunei muncul pada tahun 1371 M yaitu sebelum munculnya kerajaan islam Melaka.[2]

Silsilah kerajaan Brunei terdapat pada Batu Tarsilah yang menuliskan silsilah raja-raja Brunei pertama kali memeluk islam (1368) sampai kepada Sultan Muhammad Tajuddin (Sultan Brunei ke-19 memerintah diantara 1795-1804 dan 1804-1807 M). 

Agama Hindu-Budha dahulu pernah dianut oleh penduduk Brunei. Sebab telah menjadi kebiasaan dari para musafir agama tersebut, apabila mereka sampai disuatu tempat, mereka akan mendirikan Stupa sebagai tanda serta pemberitahuaan mengenai kedatangan mereka untuk megembangkan agama tersebut di tempat itu. Replika batu nisan P'u Kung Chih Mu, batu nisan rokayah binti Sultan Abdul Majid Ibni Hasan Ibni Muhammad Shah Al-Sultan, dan batu nisan Sayid Alwi Ba Faqih (Mufaqih) pula menggambarkan mengenai kedatangan agama islam di Brunei yang dibawa oleh musafir, pedagang-pedagang dan mubaligh-mubaligh islam sehinggga agama islam itu berpengaryh dan mendapat tempat baik penduduk lokal maupun keluarga kerajaan islam menjadi agam resmi negara semenjak negara Awang Alak Betatar masuk islam (1406-1402). Awang Alak Betatar ialah raja Brunei yang pertama memeluk islam dengan gelar Paduka Seri Sultan Muhammmad Shah. Dia terkenal sebagia pengasas kerajaan islam di Brunei dan Borneo. Pedagang dari Cina yang pernah ke Brunei merekamkan beliau sebagai Ma-Ha-Mo-Sha. Beliau meninggal dunia pada 1402. [3]

Awang Alak menganut islam dari Syarif Ali, dikatakan, Syarif Ali adalah keturunan Ahlul Bait yang bersambung dengan kelurga Rasullah melalui cucu baginda, Saidina Hassan. Pendekatan dakwah yang dilakukan Syarif Ali tidak sekedar menarik hati Awang Alak, dakwahnya menambat hati rakyat Brunei. Dengan kebaikan dan sumbangan besarnya dalam dakwah islam di Brunei, beliau dinikahkan dengan puteri Sultan Muhammad Shah. Setelah itu beliau dilantik menjadi Sultan Brunei atas persetujuan pembesar dan rakyat setempat, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam Di Brunei Darussalam.

Sebagai pemimpin agama dan ulama Syarif Ali gigih mendaulatkan agama islam. Diantaranya membina mesjid dan melaksanakan hukum islam dalam pentadbiran negara. Kegiatan membina mesjid ini dijadikan pusat kegiatan keagamaan dan penyebaran islam. Setelah tujuh tahun memerintah Brunei, pada 1432 Syarif Ali meninggal dunia dan dimakamkan di makam Diraja Brunei.

Perkembangan Islam semakin maju dan setelah pusat penyebaran dan kebudayaan islam Malaka jatuh ketangan Portugis (1511), sehingga banyak ahli agama islam pindah ke Brunei. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis tersebut telah menyebabkan Sultan Brunei mencapai zaman kegemilangannya dari abad ke-15 hingga abad ke-17 sewaktu memperluas kekuasaanya ke seluruh pulau Borneo dan ke Filiphina di sebelah utaranya.[4]

Kemajuan dan perkembangan islam semain nyata pada masa pemerintahan Sultan ke-5 yaitu Sultan Bokiah (1485-1524), yang wilayahnya meliputi Suluk, Selandung, seluruh pulau Kalimantan (Borneo), kepulauan Sulu, kepulauan Balabac, pulau Banggi, pulau Belembangan, mateni dan utara pulau pahlawan sampai ke Manila.

Pada masa Sultan ke-9 yaitu Sultan Hassan (1605-1619) dilakukan beberapa hal yang menyangkut tata pemerintahan agama, karena agama memainkan peranan penting dalam memandu negara Brunei kearah kesejahteraan, kedua menyusun adat istiadat yang dipakai dalam semua upacara baik suka maupun duka.

Disamping menciptakan atribut kebesaran raja dan perhiasaan raja ketiga memuatkan Undang-Undang Islam yaitu hukum Qanun yang mengandung 46 pasal dan 6 bagian. Aturan adat istiadat kerajaan dan istana tersebut masih kekal hingga sekarang. Pada tahun 1658 Sultan Brunei mengahdiakan kawasan Timur laut kalimantan kepada Sultan Sulu di Fliphina Selatan sebagai penghargaan terhadap Sultan Sulu dalam menyelesaikan perang saudara antara Sultan Abdul Mubin dengan Pangeran Mohidin. Persengketaan dalam kerajaan Brunei merupakan suatu faktor yang menyebabkan kejatuhan kerajaan tersebut, yang bersumber dari pergolakan dalam disebabkan perebutan kuasa antara ahli waris kerajaan, juga disebabkan timbulnya pengaruh kuasa penjajah Eropa yang menggugat corak perdagangan tradisi serta memusnahkan asas ekonomi Brunei dan Kesultanan Asia Tenggara yang lain.

Brunei Darussalam merupakan negara kerajaan dengan mayoritas penduduknya beragama islam. Brunei adalah salah satu kerajaan tertua di Asia Tenggara. Sebelum abad ke-16 Brune memainkan peranan penting dalam penyebaran agama islam di wilayah Fliphina. Sesudah merdeka pada 1 Januari 1984, Brunei kembali menunjukan usaha serius dalam upaya penyebaran syiar islam, termasuk dalam suasana politik yang baru masuk.

Diantara langkah-langkah yang diambil ialah mendirikan lembaga-lembaga modern yang selaras dengan tuntutan islam. Sebagai negara yang menganut sistem hukum agama, Brunei Darussalam menerapkan hukum Syariah dalam perundangan negara. Untuk mendorong dan menopang kualitas keagamaan masyarakat didirikan sejumlah pusat kajian islam serta lembaga keuangan islam. Sama seperti Indonesia yang mayoritas penduduknay menganut agama islam dengan mazhab syafi'i, di Brunei jiga demikian. Konsep akidah yang dipegangnya adalah ahlulsunnah waljamaah. Bahkan sejak memproklamasikan diri sebagai negara merdeka, Brunei telah memastikan konsep "Melayu Islam Beraja" sebagai Falsafah negara dengan seorang Sultan sebagai kepala negaranya. Brunei merupakan salah satu kerajaan islam tertua di Asia Tenggara dengan latar belakang islam yang gemilang.

Kerajaan Brunei Darussalam adalah negara yang memiliki corak pemerintahan monarki konstitusional dengan Sultan yang menjabat sebagai kepala negara kepala pemerintahan, merangkup sebagai perdana mentri dan mentri pertahanan dengan dibantu oleh dewan penasehat kesultanan dan beberapa mentri yang dipilih dan diketahui oleh Sultan sendiri. Sultan Hassanal Bolkiah yang gelarnya diturunkan dalam wangsa yang sama sejak abad ke-15, ialah kepala negara serta pemerintahan Brunei. Islam benar-benar berfungsi sebagai pandangan hidup rakyat Brunei dan satu-satunya ideologi negara. Umtuk itu di bentuk jabatan hal Ehwal agama yang bertugas menyebarkan paham islam.

Untuk kepentingan pemerintah agama islam, pada tanggal 16 September 1985, dilainkan pusat dakwah yang juga bertugas bertugas melaksanakan progra tugas dakwah serta pendidikan kepada pegawai-pegawai agama serta msyarakat luas dan pusat pemeran perkembangan dunia islam. Di Brunei orang-orang cacat dan anak yatim menjadi tanggungan negara. Seluruh pendidikan rakyat (dari taman pendidikan kanak-kanak sampai ke perguruan tinggi) dan pelayanan kesehatan diberikan secara gratis.

Masuk Berkembangnya Islam Brunei Darussalam
Foto: Peta Brunei Darussalam/saripedia

Geliat keislaman di Brunei Darussalam jelas terlihat pada saat hari-hari besar islam. Tidak jauh berbeda dengan Indonesia seperti Maulid nabi Muhammad SAW, Nuzulul Qur'an dan isra' mi'raj. Pada setiap hari besar islam, pihak kesultanan Brunei selalu menyelenggarakan acara perayaan.(Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam Di Brunei Darussalam) Bahkan, Sultan Hassanal Bolkiah selaku pemimpin negara mewajibkan para pegawai kerajaan untuk menghadiri peringatan tersebut. Proses pengembangan islam ini oleh pemerintah Brunei utamanya ditekankan pada bidang pendidikan. Langkah mengembangkan islam dalam sendi-sendi masyarakat di Brunei dilaksanakan dengan hati-hati agar proses itu berjalan seimbang. Proses pengislaman itu diatur sedemikian rupa hingga tidak memberikan dampak tragedi 2 September tidak begitu dirasakan diketahui langkah masyarakat Brunei.[5]

Referensi:
[1] Awang Muhammad Jamil Al-Sufri.1992. Liku-Liku Pencapaian Kemerdekaan Negara Brunei Darussalam Cetakan Pertama. Jakarta: Jabatan Pusat Sejarah
[2] www.academia.edu
[3] http://wikipedia.org/wiki/islam_di_Brunei
[4] Van Hoeve.1999.Ensiklopedia Islam. Jakarta: PT. Ichtiar Baru
[5] http://youcankymayeli.blogspot.com

Kerajaan Brunei Darussalam

Kerajaan Brunei Darussalam- Brunei Darussalam merupakan salah satu negara kecil di Asia Tenggara yang terletak di ujung pantai Utara pulau Kalimantan dan berbatasan dengan Malaysia. dengan ibu kotanya bernama Bandar Sri Begawan. Brunei terdiri dari dua bagian yang dipisahkan di daratan oleh Malaysia. Brunei terkenal dengan kemakmuran dan hasil buminya yang melimpah, dan juga tegas dalam melaksanakan syariat Islam baik dalam pemerintahan maupun kehidupan sehari-hari.

A.    Kerajaan Brunei Darussalam Sebelum masuknya Islam
Tidak banyak Sumber / data sejarah yang ditemukan tentang kerajaan Brunei sebelum masuknya Islam. Catatan mengenai kerajaan Brunei sebelum masuknya Islam hanya bersumber dari sedikit manuskrip dari sumber sejarah Cina. Namun catatan tersebut lebih banyak bercerita tentang kerajaan Puni, hal ini dikarenakan kerajaan Puni merupakan kerajaan terakhir Brunei sebelum berganti menjadi tata pemerintahan Islam{1}.
Mengacu pada sumber sejarah Cina, kerajaan Brunei sudah ada sejak abad ke-6. Hal ini dibuktikan dengan adanya hubungan dagang antara Brunei dengan Dinasti Liang (502-557M). Penyebutan nama kerajaan Brunei berbeda-beda sesuai dengan sebutan yang digunakan oleh Dinasti Cina. Pada masa Dinasti Liang dan Dinasti Tang Brunei lebih dikenal dengan nama Po-li. Pada masa Dinasti Song disebut dengan Po-lo dan Pada masa Dinasti Ming disebut dengan Po-ni (puni).
Aktivitas Ekonomi, Sosial dan Budaya :
Sejauh ini yang ditemukan hanyalah adat kebiasaan masyarakat Puni (Brunei pada masa Dinasti Ming), karena minimnya sumber sejarah yang ditemukan. Pada saat itu masyarakat Puni melakukan hubungan Perniagaan (pertukaran barang dagangan) dengan Cina. Perniagaan akan dimulai setelah kapal cina berlabuh selama tiga hari, kemudian raja Puni mulai menawar harga-harga barang. Selama berunding masalah harga, Raja Puni akan menjamu tamunya dengan beragam masakan. Setelah harga ditetapkan maka dipukullah Gong sebagai pertanda perdagangan dimulai. Konon jika harga belum ditentukan maka sispapun belum boleh membeli, barang siapa yang melanggar ketetapan tersebut maka akan di hukum mati, bagi sudagar hukumannya akan diringankan.
Pada saat itu barang yang diperdagangkan adalah Tikar emas, tembikar, porselen, Plumbun (lead), perak, emas, kain sutera, kain kasa, dan kiap. Selain dengan Cina kerajaan Puni juga memiliki hubungan dagang dengan Kochin, Jawa, Singapura, Pahang, Terengganu, Kelantan, serta negeri-negeri sekitar Siam.
Kebiasaan masyarakat Puni ketika ada yang meninggal maka mayatnya akan dimasukkan ke keranda yang terbuat dari buluh, kemudian dibawa kehutan dan ditinggalkan begitu saja. Dua bulan kemudian barulah keluarganya bercocok tanam, tetapi tidak dijelaskan dimana mereka bercocok tanam apakah ditempat mayat tersebut atau ditempat lain. Mereka juga punya tradisi khas dalam hal meracik obat luka yang dikenal dengan nama pokok. Obat tersebut berasal dari akar yang digoreng sampai hangus kemudian abunya digosokkan ke bagian yang terluka. Walaupun luka tersebut bisa menyebabkan kematian tetapi mereka tetap percaya bahwa luka tersebut bisa disembuhkan {2}.
Sebagian masyarakat Puni menganut agama Buddha, namun mereka tidak memiliki arca. Tetapi mereka membangun rumah Buddha yang bertingkat-tingkat dengan atap yang berbentuk menara. Dan sebagian lagi sudah ada yang beragama islam, hal ini terbukti dengan ditemukannya makam-makam islam serta adanya orang muslim yang menjadi utusan raja Puni dalam melakukan perniagaan ke Cina.
Raja Puni Mahamosha adalah seorang Muslim, hal ini terlihat pada makanan yang diberikan oleh Raja Cina kepada dirinya yang berupa daging-daging yang bukan babi. Mahamosha juga dikenal dengan nama Sultan Muhammad Shah / Sultan Brunei I. Disinilah awal pemerintahan Islam dikerajaan Brunei dimulai.
B.     Kerajaan Brunei Darussalam setelah masuknya Islam
Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Shah, Brunei berada dibawah pengaruh kekuasaan Majapahit dan setiap tahunnya wajib memberikan upeti sebanyak 40 kati kapur barus. Setelah Patih Gajah Mada wafat, Kerajaan Brunei melepaskan diri dari pengaruh Majapahit. Sultan Muhammad Shah wafat pada tahun 1402M, setelah dimakamkan raja Cina bertitah agar putranya yang bernama Hsia Wang diangkat menjadi raja, tetapi karena dia masih berusia 4 tahun maka tahta kerajaan diserahkan kepada keponakannya yaitu Sultan Ahmad / Sultan Brunei II.
Setelah 17 tahun berkuasa, Sultan Ahmad wafat dan kemudian digantikan oleh menantunya yang bernama Sultan Syarif Ali, hal ini dikarenakan beliau tidak memiliki anak laki-laki. Pada masa ini terjadi perubahan besar dalam sejarah Kerajaan Brunei. Kerajaan Puni berubah nama menjadi Kerajaan Brunei bersamaan dengan perpindahan Kerajaan Brunei yang lama / tua ke kota baru. Pergantian nama ini disebabkan karena putusnya hubungan dagang antara Brunei dan Cina dikarenakan pergantian Sultan yang kemudian berimplikasi pada perubahan kebijakan politik luar negeri.
Ketika Sultan Syarif Ali menjadi raja, beliau berusaha menyebarkan Islam kepada penduduk Brunei. Beliau menerapkan kepemimpinan yang adil dan teratur dengan berasaskan hukum Islam. Pada masa beliau memerintah Brunei menjadi negeri yang aman dan Sentosa. Karena itulah kemudian Brunei mendapatkan sebutan "Darussalam" yang artinya 'Negeri yang aman'. Sultan Syarif mulai melakukan ekspansi secara bertahap dan melakukan perluasan pengaruh ke beberapa negara. Kemajuan Brunei semakin pesat dengan jatuhnya Malaka ke tangan Portugis (1511). Sistem monopoli yang diterapkan oleh Portugis membuat sebagian besar pedagang mengalihkan perdagangannya ke plabuhan Brunei. Banyaknya pedagang muslim yang masuk ke Brunei membuat pertumbuhan Islam di Brunei berlangsung dengan cepat {3}.
Kerajaan Brunei mengalami masa Kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Bolkiah. Pada masa ini kekuasaan Brunei semakin luas dari serawak, sabah, kepulauan sulu, hingga ujung barat laut Kalimantan. Selain itu beliau juga memiliki hubungan baik dengan Raja di Jawa dan Malaka. Kemakmuran ini dinikmati oleh seluruh rakyat Brunei, bahkan semua rakyat memiliki rumah kayu yang berdiri diatas air, sebuah simbol kehidupan yang megah pada saat itu. Setelah Sultan Bolkiah wafat (1524), tahta kerajaan diberikan kepada Sultan Abdul Kahar. Pada masa Sultan Abdul Kahar inilah terjadi kolonialisme Eropa di Asia Tenggara, tak terkecuali di Kerajaan Brunei.
C.     Kerajaan Brunei Masa Kolonialisme
Brunei dan portugis memiliki hubungan dagang dan ekonomi yang cukup harmonis, namun pada tahun 1536 Portugis melakukan serangan terhadap muslim di Maluku sehingga membuat Sultan marah dan melakukan pengusiran terhadap duta besar Portugis. Brunei sempat beberapa kali terlibat dalam peperangan Portugis, karena Sultan membantu pihak lawan. Dan para pedagang Brunei juga sering dianggap melanggar perjanjian karena melakukan aktivitas dagang di kawasan Ligor dan Siam. Namun konflik yang terjadi tidak terlalu besar dan dengan cepat bisa diredakan.
Berbeda dengan Portugis, hubungan Brunei dengan Spanyol tidak begitu harmonis. Pada tahun 1565 terjadi pertempuran di perairan yang melibatkan Brunei dan Spanyol. Setahun kemudian hubungan keduanya semakin memanas, karena Spanyol berhasil merebut Manila dari tangan Brunei. Brunei sempat mengancam Spanyol dengan mengatakan akan melakukan serangan dengan menggunakan armada besar dalam rangka untuk merebut kembali kota tersebut. Tetapi dengan berbagai pertimbangan penyerangan tersebut dibatalkan dan Manila dibiarkan jatuh ke tangan Spanyol.
Pada tahun 1578, Spanyol mengambil Kesultanan Sulu dari Brunei dan bahkan Spanyol juga menyerang Sultan Brunei. Spanyol juga melarang Brunei dalam menyebarkan Islam di Filipina karena dianggap mengganggu kegiatan Missionaris dalam menyebarkan agama Kristen. Sayangnya upaya Spanyol untuk menduduki kawasan Brunei tidak berhasil karena negeri tersebut sedang dilanda penyakit disentri dan kolera. Penyakit tersebut membuat Spanyol mengalami kerugian yang besar dan akhirnya meninggalkan Brunei kemudian kembali ke Manila. Kerugian yang diderita Brunei tidak terlalu besar karena tidak lama kemudian Brunei berhasil merebut kesultanan Sulu, Tetapi Brunei harus kehilangan Luzon yang direbut oleh Spanyol.
Kekalahan Brunei dalam menghadapi Spanyol membawa petaka bagi kondisi dalam negeri Brunei. Perpecahan antar daerah tidak bisa dihindari, banyak daerah yang melakukan pemberontakan dan menuntut kemerdekaan dari Brunei. Namun karena sikap sultan yang adil, pemberontakan bisa diredam. Pada tahun 1839 terjadi pemberontakan di serawak, pemberontakan ini terjadi pada masa Sultan Omar Ali Saifuddin II, namun atas bantuan James Brooke pemberontakan berhasil di padamkan.
Atas jasanya Brooke diangkat sebagai gubernur Serawak dan mendapat gelar "Rajah Putih". Namun Brooke memiliki maksud lain dan akhirnya Sultan mengetahui hal tersebut. Pada tahun 1843 terjadi konflik antara Brooke dan Sultan yang berakhir dengan kekalahan di pihak Brunei. Sultan akhirnya mengakui kemerdekaan Serawak. Lepasnya Serawak membuat Inggris lebih mudah bergerak karena memiliki kawasan yang strategis. Pada tahun 1846, Brunei diserang oleh Inggris dan dengan mudah menaklukkan Ibukota Brunei. Sultan SaifuddinII ditangkap dan dipaksa  menandatangani perjanjian Labuan yang berisi penyerahan Labuan kepada Inggris. Pada tahun 1847, Brunei menandatangani Perjanjian Perdagangan dan Persahabatan dengan Inggris. Pada tahun 1850, Brunei menandatangani perjanjian serupa dengan Amerika Serikat.
Pada tahun 1877, Inggris juga memaksa Brunei untuk menandatangani perjanjian penyewaan lahan yang ada disebelah timur (kini bernama Sabah) kepada Perusahaan Borneo Utara milik Britania Raya. Wilayah Brunei yang awalnya begitu luas berubah menjadi kecil akibat penjajahan Inggris. Brunei menjadi negara yang lemah dan tak berdaya. Kondisi tersebut membuat Sultan Hasyim Alilul Alam Aqamaddin menandatangani perjanjian degan Inggris pada tahun 1888 yang meletakkan Brunei di bawah perlindungan Inggris. Ketidakberdayaan Brunei semakin terlihat saat Sultan mengirimkan permintaan kepada pemerintah Inggris agar mengirimkan warga Inggris ke Brunei untuk membantu menjalankan pemerintahan. Permintaan tersebut baru dipenuhi pada tahun 1906, warga Inggris mulai dikirimkan untuk membangun Brunei. Sebuah kantor bea cukai dan pertanahanan mulai dibangun, kepolisian Brunei juga mulai dibangun. Pada tahun 1911, Inggris juga mendirikan sekolah melayu. Kemakmuran Brunei mulai kembali terlihat sejak ditemukannya minyak di Seria pada tahun 1929.
D.    Proses Kemerdekaan
Pada tahun 1959, Brunei mengeluarkan sebuah konstitusi baru yang menyatakan pembentukan pemerintahan sendiri, sedangkan urusan luar negeri, pertahanan dan keamanan tetap menjadi milik Britania Raya yang diwakili oleh Komisaris Tinggi. Pada tahun 1970, Ibu kota Brunei Town berubah nama menjadi Bandar Sri Begawan dengan tujuan untuk menghormati jasa Sultan Omar Ali Saifuddin.
Pada tanggal 4 Januari 1979, Brunei dan Inggris / Britania Raya menandatangani perjanjian baru berupa Perjanjian Kerjasama dan Persahabatan. Barulah pada tanggal 1 Januari1984 Brunei memperoleh kemerdekaannya secara penuh {4}

Daftar Pustaka :