Showing posts with label Sejarah Islam. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Islam. Show all posts

Sejarah Peradaban Islam di Dunia

Sejarah Peradaban Islam di Dunia - Rasulullah saw bersabda: "Apabila umatku sudah mengagungkan dunia maka akan dicabutlah kehebatan Islam; dan apabila mereka meninggalkan aktivitas amar ma'ruf nahi munkar, maka akan diharamkan keberkahan wahyu; dan apabila umatku saling mencaci, maka jatuhlah mereka dalam pandangan Allah."

"Hampir tiba suatu masa dimana berbagai bangsa/kelompok mengeroyok kamu, bagaikan orang-orang yang kelaparan mengerumuni hidangan mereka." Seorang sahabat bertanya: "Apakah karena jumlah kami yang sedikit pada hari itu?" Nabi SAW menjawab: "(Tidak) Bahkan jumlah kamu pada hari itu sangat banyak (mayoritas), tetapi (kualitas) kamu adalah buih, laksana buih di waktu banjir, dan Allah mencabut rasa gentar terhadap kamu dari hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan menanamkan penyakit "al wahnu". Seorang bertanya, "Apakah al wahnu itu Ya Rasulallah?" Rasulullah menjawab: "Cinta dunia dan takut mati." (HR Abu Dawud).

Sejarah peradaban islam pdf 
Makalah sejarah peradaban islam 
Sejarah peradaban islam pada masa khulafaur rasyidin 
Pengertian sejarah peradaban islam 
Sejarah peradaban islam di dunia 
Sejarah peradaban islam pada masa nabi muhammad 
Tujuan mempelajari sejarah peradaban islam 
Buku sejarah peradaban islam

Al-Quran dan Kehancuran Peradaban
Beberapa ayat al-Quran memberikan penjelasan tentang kehancuran suatu bangsa. Penjelasan al-Quran ini sangatlah penting untuk menjadi pelajaran, khususnya bagi kaum Muslimin, agar mereka tidak mengulang kembali tindakan-tindakan yang dilakukan oleh umat terdahulu, yang dapat menghancurkan peradaban mereka.

Allah SWT berfirman:
"Andaikan penduduk suatu wilayah mau beriman dan bertaqwa, maka pasti akan Kami buka pintu-pintu barokah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ajaran-ajaran Allah), maka Kami azab mereka, karena perbuatan mereka sendiri" (QS Al A'raf:96)

Maka apabila mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba (sekonyong-konyong), maka ketika itu mereka terdiam dan berputus asa. (QS al-An'am:44).

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepatutnya berlaku keputusan Kami terhadap mereka, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (QS al-Isra':16)

Ayat-ayat dalam al-Quran yang menjelaskan tentang kehancuran suatu negeri itu bercerita, bahwa kehancuran suatu kaum berhubungan dengan hal-hal: (1) sikap kaum yang melupakan peringatan Allah SWT, sehingga mereka lupa diri dan hidupnya dihabiskan untuk sekedar mencari kesenangan demi kesenangan (hedonisme). Hal ini juga disebutkan dalam al-Quran surat at-Taubah ayat 24. (2) tindakan elite-elite atau pembesar masyarakat yang melupakan Allah SWT dan membuat kerusakan di muka bumi. Apabila di dalam suatu peradaban sudah tampak dominan adanya para pembesar, tokoh masyarakat, orang-orang kaya yang bergaya hidup mewah, atau sesiapa saja yang bermewah-mewah dalam hidupnya, maka itu pertanda kehancuran peradaban itu sudah dekat.

Akan tetapi, dari kedua hal tersebut, inti dari kehancuran peradaban atau bangsa, adalah kehancuran iman dan kehancuran akhlak. Apabila iman kepada Allah SWT sudah rusak, maka secara otomatis pula akan terjadi pembangkangan terhadap aturan-aturan Allah SWT. Rasulullah saw berkata:
"Apabila perzinahan dan riba sudah melanda suatu negeri, maka penduduk negeri itu telah menghalalkan turunnya azab Allah atas mereka sendiri." (HR Thabrani dan al-Hakim).

Dalam sejarah manusia, berbagai kehancuran peradaban di muka bumi sudah begitu banyak terjadi. Dan Allah SWT menganjurkan kaum Muslimin agar mengambil pelajaran (hikmah) dari peristiwa-peristiwa sejarah tersebut. "Maka berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana hasilnya orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul Allah SWT) (QS an-Nahl:36)

Sebagai misal, Kaum 'Ad, telah dihancurkan oleh Allah SWT karena berlaku takabbur dan merasa paling berkuasa dan paling kuat. Mereka merasa tidak ada lagi yang dapat mengalahkan mereka, sehingga mereka berkata: "Siapa yang lebih hebat kekuatannya dari kami?" (QS Fusshhilat:15). Begitu juga kehancuran yang menimpa Fir'aun, Namrudz, dan sebagainya. Di masa Rasuullah saw, kaum Muslim yang jumlahnya sangat besar dan berlipat-lipat daripada kaum kuffar, hampir saja dikalahkan dalam Perang Hunain (QS at-Taubah: 25).

Sejarah juga mencatat, bagaimana Peradaban Islam di Spanyol yang sangat agung dan sudah bertahan selama 800 tahun (711-1492) dapat dihancurkan dan akhirnya kaum Muslimin dimusnahkan dari bumi Spanyol. S.M. Imamuddin menyebutkan beberapa faktor penyebab kehancuran peradaban Islam di Spanyol. Yang terpenting adalah adanya perpecahan dan kecemburuan antar suku. Bahkan ada beberapa penguasa Muslim di Spanyol, seperti Ma'mun dari Toledo dan Dinasti Nasrid, mendapatkan kekuasaan dengan bantuan kekuatan Kristen untuk menghancurkan kekuatan Muslim lainnya.1 Sejarah jatuhnya Palestina ke tangan Zionis Yahudi juga boleh dijadikan pelajaran bagi kaum Muslimin. Bagaimana suatu kaum Yahudi yang minoritas dari segi jumlah tetapi dapat mengalahkan kaum Muslim yang sangat besar.

Kehancuran dan kejatuhan berbagai kaum, negeri, bangsa, dan peradaban, inilah yang sepatutnya direnungkan secara mendalam dan sungguh-sungguh oleh kaum Muslimin, khususnya para ulama dan cendekiawan Muslim di wilayah Peradaban Melayu. Apakah gejala-gejala kehancuran suatu negeri atau peradaban seperti yang disebutkan dalam al-Quran dan pernah terjadi dalam sejarah manusia sudah ditemukan dalam wilayah peradaban Melayu? Kalau gejala-gejala itu sudah ada, bagaimana cara menghindarkannya?

Yang jelas, jatuh bangunnya suatu peradaban, pada dasarnya tergantung pada kondisi manusia-manusia dalam peradaban itu sendiri. Kekalahan dan kehancuran suatu peradaban adalah disebabkan oleh tindakan mereka sendiri, yang menciptakan "kondisi layak kalah" (al-qabiliyyah lil-hazimah). Allah SWT menegaskan:

"Yang demikian itu karena Allah sekali-kali tidak akan mengubah nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." (QS al-Anfal:53).

Kebangkitan Islam: Belajar dari Kasus Perang Salib
Belum lama ini buku Hakadza Zhahara Jīlu Shalahuddin wa Hakadza 'Ādat al-Quds karya Dr. Majid Irsan al-Kilani diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.2 Buku ini menarik, terutama dari sudut pandang kebangkitan sebuah peradaban. Penerjemah buku ini, yang merupakan alumni Universitas Islam Madinah, menceritakan, bahwa dosen pembimbing mereka, Dr. Ghazi bin Ghazi al-Muthairi, adalah yang mengenalkan dan meminta mereka membaca buku ini.

Buku ini menceritakan bagaimana kaum Muslimin mampu bangkit dari keterpurukan selama sekitar 50 tahun. Titik balik Perang Salib terjadi dengan kejatuhan Edessa di tangan Muslim pada 539/1144, di bawah komandan Imam al-Din Zanki, ayah Nur al-Din Zanki. Dua tahun sesudah itu, Zanki wafat, tahun 1146. Ia telah meratakan jalan buat anaknya, Nur al-Din, untuk memimpin perjuangan melawan Pasukan Salib. Pada 544/1149, Nur al-Din meraih kemenangan melawan pasukan Salib dan pada 549/1154 ia sukses menyatukan Syria di bawah kekuasaan Muslim. Nur al-Din digambarkan sebagai sosok yang sangat religius, pahlawan jihad, dan model penguasa sunni. Setelah meninggalnya Nur al-Din pada 569/1174, Shalahuddin al-Ayyubi, keponakan Nur al-Din, memegang kendali kepemimpinan Muslim dalam melawan pasukan Salib. Ia kemudian dikenal sebagai pahlawan Islam yang berhasil membebaskan Jerusalem pada tahun 1187. 3

Tahun 1095 Perang Salib dimulai. Tahun 1099, Jerusalem jatuh ke tangan pasukan Salib. Meskipun memiliki negara dan pemimpin (khalifah), umat Islam berada dalam kondisi yang sangat terpuruk. Sekitar 88 tahun kemudian tampillah pahlawan Islam terkenal, Shalahuddin al-Ayyubi, yang berhasil membebaskan kembali al-Aqsha dari kekuasaan pasukan Salib, pada tahun 1187. Buku ini memaparkan data-data, bahwa Shalahudin bukanlah pemain tunggal yang "turun dari langit". Tetapi, dia adalah produk sebuah generasi baru yang telah dipersiapkan oleh para ulama yang hebat. Dua ulama besar yang disebut berjasa besar dalam menyiapkan generasi baru itu adalah Imam al-Ghazali dan Abdul Qadir al-Jilani.

Menurut Dr. Majid Irsan al-Kilani, dalam melakukan upaya perubahan umat yang mendasar, al-Ghazali lebih menfokuskan pada upaya mengatasi masalah kondisi umat yang layak menerima kekalahan. Di sinilah, al-Ghazali mencoba mencari faktor dasar kelemahan umat dan berusaha mengatasinya, ketimbang menuding-nuding musuh. Menurut al-Ghazali, masalah yang paling besar adalah rusaknya pemikiran dan diri kaum Muslim yang berkaitan dengan aqidah dan kemasyarakatan, Sejarah Peradaban Islam di Dunia. Al-Ghazali tidak menolak perubahan pada aspek politik dan militer, tetapi yang dia tekankan adalah perubahan yang lebih mendasar, yaitu perubahan pemikiran, akhlak, dan perubahan diri manusia itu sendiri. Untuk itu, al-Ghazali melakukan perubahan dimulai dari dirinya sendiri dahulu, kemudian baru mengubah orang lain. Kata penulis buku ini:

"Al-Ghazali lebih menfokuskan usahanya untuk membersihkan masyarakat muslim dari berbagai penyakit yang menggerogotinya dari dalam dan pentingnya mempersiapkan kaum Muslim agar mampu mengemban risalah Islam kembali sehingga dakwah Islam merambah seluruh pelosok bumi dan pilar-pilar iman dan kedamaian dapat tegak dengan kokoh." [4]

Melalui kitab-kitab yang ditulisnya setelah merenungkan kondisi umat secara mendalam, al-Ghazali sampai pada kesimpulan bahwa yang harus dibenahi pertama dari umat adalah masalah keilmuan dan keulamaan. Oleh sebab itu, kitabnya yang terkenal dia beri nama Ihya' Ulumuddin. Secara ringkas dapat dipahami, bahwa di masa Perang Salib, kaum Muslim berhasil menggabungkan konsep jihad al-nafs dan jihad melawan musuh dalam bentuk 'qital' dengan baik. Karya-karya al-Ghazali dalam soal jihad menekankan pentingnya mensimultankan berbagai jenis potensi dalam perjuangan umat, baik potensi jiwa, harta, dan juga keilmuan. Adalah menarik, bagaimana dalam situasi perang seperti itu, Imam Ghazali mampu melihat masalah umat secara komprehensif; secara mendasar. Dan melalui Ihya Ulumuddin, al-Ghazali juga menekankan pentingnya masalah ilmu dan akhlak. Ia membuka Kitabnya itu dengan "Kitabul Ilmi" dan sangat menekankan pentingnya aktivitas 'amar ma'ruf nahi munkar'. Aktivitas "amal ma'ruf dan nahi munkar", kata al-Ghazali, adalah kutub terbesar dalam urusan agama. Ia adalah sesuatu yang penting, dan karena misi itulah, maka Allah mengutus para nabi. Jika aktivitas 'amar ma'ruf nahi munkar' hilang, maka syiar kenabian hilang, agama menjadi rusak, kesesatan tersebar, kebodohan akan merajelela, satu negeri akan binasa. Begitu juga umat secara keseluruhan. [5]


Aktivitas al-Ghazali yang aktif dalam memberikan kritik-kritik keras terhadap berbagai pemikiran yang dinilainya menyesatkan umat, juga menunjukkan kepeduliannya yang tinggi terhadap masalah ilmu dan ulama. Al-Ghazali seperti berpesan kepada umat, ketika itu, bahwa problema umat Islam saat itu tidak begitu saja bisa diselesaikan dari faktor-faktor permukaan saja, seperti masalah politik atau ekonomi. Tetapi, masalah umat perlu diselesaikan dari masalahnya yang sangat mendasar. Tentu, tahap kebangkitan dan pembenahan jiwa ini tidak dapat dilakukan tanpa melalui pemahaman keilmuan yang benar. Ilmu adalah asas dari pemahaman dan keimanan. Ilmu yang benar akan menuntun kepada keimanan yang benar dan juga amal yang benar. Ilmu yang salah akan menuntun pada pehamaman yang salah. Jika pemahaman sudah salah, bagaimana mungkin amal akan benar?

Rasulullah saw bersabda: "Termasuk diantara perkara yang aku khawatirkan atas umatku adalah tergelincirnya orang alim (dalam kesalahan) dan silat lidahnya orang munafik tentang al-Quran." (HR Thabrani dan Ibn Hibban).

Jadi, dalam perjuangan umat, diperlukan pemahaman secara komprehansif terhadap problematika yang dihadapi oleh umat Islam. Ketika itu, umat Islam menghadapi berbagai masalah: politik, keilmuan, moral, sosial, dan sebagainya. Problema itu perlu dianalisis dan didudukkan secara proporsional dan adil. Yang penting ditempatkan pada posisinya, begitu juga yang kurang penting. Di situlah, al-Ghazali menulis kitab Ihya' Ulumuddin, dengan makna "Menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama". Ketika itu, dia seperti melihat, seolah-olah ilmu-ilmu agama sudah mati, sehingga perlu dihidupkan. Dalam Kitabnya, ia sangat menekankan pada aspek niat dan pembagian keilmuan serta penempatannya sesuai dengan proporsinya.

Al-Ghazali dan para ulama ketika itu berusaha keras membenahi cara berpikir ulama dan umat Islam serta menekankan pada pentingnya aspek amal dari ilmu, sehingga jangan menjadi ulama-ulama yang jahat. Sebab, ilmu yang rusak, dan ulama yang jahat, adalah sumber kerusakan bagi Islam dan umatnya. Nabi Muhammad saw memberi amanah kepada para ulama untuk menjaga agama ini. Tentu saja, itu harus mereka lakukan dengan cara menjaga keilmuan Islam dengan baik. Bahkan, Rasulullah saw mengingatkan akan datangnya satu zaman yang penuh dengan fitnah dan banyaknya orang-orang jahil yang memberi fatwa. Sabda Rasulullah saw:

Bahwasanya Allah SWT tidak akan mencabut ilmu dengan sekaligus dari manusia. Tetapi Allah menghilangkan ilmu agama dengan mematikan para ulama. Apabila sudah ditiadakan para ulama, orang banyak akan memilih orang-orang bodoh sebagai pemimpinnya. Apabila pemimpin yang bodoh itu ditanya, mereka akan berfatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan. (HR Muslim).

Sepanjang sejarah Islam, para ulama sejati sangat aktif dalam mempertahankan konsep-konsep dasar Islam, mengembangkan ilmu-ilmu Islam, dan menjaganya dari perusakan yang dilakukan oleh ulama-ulama su', atau ulama jahat. Penyimpangan dalam bidang keilmuan tidak ditolerir sama sekali, dan senantiasa mendapatkan perlawanan yang kuat, secara ilmiah. Karena itulah, kerusakan dalam bidang keilmuan harus mendapatkan perhatian dari umat Islam. Apalagi jika kerusakan ilmu itu terjadi di jajaran lembaga-lembaga pendidikan Islam yang diharapkan menjadi pusat perkaderan ulama dan pemimpin umat. [6]

Dari hasil kajiannya terhadap gerakan kebangkitan umat di era Perang Salib, Dr. al-Kilani menyimpulkan, bahwa yang pertama kali harus dilakukan adalah perubahan dalam diri manusia itu sendiri. "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah kondisi yang ada pada satu kaum, sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka." (QS ar-Ra'd:11). Nabi saw juga menyatakan: "Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, jika ia baik, maka baiklah seluruh anggota tubuh. Namun, jika ia rusak, maka rusaklah seluruh anggota tubuh. Ketahuilah, itu adalah qalb." (HR Muslim). Era kejayaan dan kekuatan sepanjang sejarah Islam tercipta ketika terjadi kombinasi dua unsur, yaitu unsur keikhlasan dalam niat dan kemauan serta unsur ketepatan dalam pemikiran dan perbuatan. [7]

Jika strategi ini direfleksikan dalam perjuangan umat Islam Indonesia, maka sudah saatnya umat Islam Indonesia melakukan introspeksi terhadap kondisi pemikiran dan moralitas internal mereka, terutama para elite dan lembaga-lembaga perjuangannya. Harus dilakukan evaluasi total terhadap kondisi internal umat Islam, khususnya mendiagnosa penyakit yang sangat membahayakan umat dan telah menghancurkan umat terdahulu, yaitu sikap hubbud dunya, fanatisme kelompok, dan kerusakan ilmu. Introspeksi dan koreksi internal ini jauh lebih penting dilakukan dibandingkan meneliti kondisi faktor eksternal, sehingga 'kondisi layak terbelakang dan kalah' (al-qabiliyyah lit-takhalluf wa al-hazimah) bisa dihilangkan. 

Kita bisa melakukan evaluasi internal, apakah para elite dan lembaga-lembaga pendidikan Islam sudah menerapkan profesionalitas dalam pendidikan mereka?[8] Apakah tradisi ilmu dalam Islam sudah berkembang di kalangan para profesor, dosen-dosen, dan guru-guru bidang keislaman? Apakah konsep ilmu dalam Islam sudah diterapkan di lembaga-lembaga pendidikan Islam?[9] Apakah para pelajar mencari ilmu untuk mencari dunia atau untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah? Apakah budaya kerja keras dan sikap 'zuhud' terhadap dunia sudah diterapkan para elite umat? Apakah ashabiyah (fanatisme kelompok) masih mewarnai aktivitas umat? Pada tataran keilmuan, bisa diteliti, apakah sudah tersedia buku-buku yang mengajarkan Islam secara benar dan bermutu tinggi pada setiap bidang keilmuan? 

Semua ini membutuhkan kerja yang berkualitas, kerja keras, kesabaran, ketekunan, kerjasama berbagai potensi umat, dan waktu yang panjang. Karena itu, disamping berbicara tentang bagaimana membangun masa depan Indonesia yang ideal, yang penting dilakukan adalah bagaimana membenahi kondisi internal umat Islam dan lembaga-lembaga dakwahnya, agar menjadi sosok-sosok dan lembaga yang bisa diteladani oleh umat manusia.

Sejarah Peradaban Islam di Dunia
Sumber Foto: alfisyahriani/wordpress.com

Jadi, tugas umat Islam bukan hanya menunggu datangnya pemimpin yang akan mengangkat mereka dari keterpurukan. Umat Islam dituntut untuk bekerja keras dalam upaya membangun satu generasi baru yang akan melahirkan pemimpin-pemimpin berkualitas 'Salahuddin al-Ayyubi'. Dan ini tidak mungkin terwujud, kecuali jika umat Islam Indonesia – terutama lembaga-lembaga dakwah dan pendidikannya – amat sangat serius untuk membenahi konsep ilmu dan para ulama atau cendekiawannya. Dari sinilah diharapkan lahir satu generasi baru yang tangguh (khaira ummah): berilmu tinggi dan beraklak mulia, yang mampu membawa panji-panji Islam ke seluruh penjuru dunia.

Jika generasi baru itu telah lahir, maka akan lahirlah sebuah peradaban baru, sebagaimana pernah terjadi di masa-masa lalu. Wallahu a'lam. (Depok, 16 November 2007)

[1] S.M. Imamuddin, A Political History of Muslim Spain, (Pakistan: S.M. Shahabuddin,1969), 321-323.

[2] Judul dalam bahasa Indonesia adalah Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib: Refleksi 50 Tahun Gerakan Dakwah Para Ulama untuk Membangkitkan Umat dan Merebut Palestina (diterjemahkan oleh Asep Sobari Lc dan Amaluddin, Lc, MA). (Bekasi: Kalam Aulia Mediatama, 2007).

[3]  Lihat juga Carole Hillenbrand, The Crusades: Islamic Perspectives, (Edinburg:Edinburg University Press, Ltd., 1999), 112-131. Hillenbrand mencatat tentang diskursus "the greater jihad" (jihad al-nafs) di masa Perang Salib: "The concept of the spiritual struggle, the greater jihad, was well developed by the time of the Crusade and any discussion of jihad in this period should always take into account the spiritual dimension without which the military struggle, the smaller jihad, is rendered hollow and without foundation." The twelfth-century mystic 'Ammar al-Bidlisi (d. between 590 and 604/1194 and 1207) analyzed the greater jihad, declaring that man's lower soul (nafs) is the greatest enemy to be fought." Abu Shama speaks of Nur al-Din in just these terms: "He conducts a double jihad against enemy and against his own soul." (hal. 161).

[4] Al-Kilani, Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib, hal. 78-79. Dalam bukunya, al-Kilani mengutip Ibn Katsir dalam Bidayah wal-Nihayah, yang menggambarkan parahnya kondisi umat Islam saat itu. Umat dicekam penyakit ashabiyah (fanatisme mazhab) yang parah, kerusakan pemikiran, dan gaya hidup mewah pada kalangan elite. Gubernur Abu Nashr Ahmad bin Marwan, seorang gubernur ketika itu, mengucurkan anggaran 200.000 dinar dalam setiap acara hiburan yang digelarnya. Tahun 516 Hijriah, saat Menteri Sultan al-Mahmud terbunuh, bertepatan dengan saat istrinya keluar dari rumah dengan diiringi 100 pelayan dan kendaraan-kendaraan terbuat dari emas. Padahal, pada saat yang sama, banyak rakyat yang menderita kelaparan. Ketika pasukan Salib membantai puluhan ribu kaum Muslim, sebagian ulama berusaha menggelorakan semangat jihad kaum Muslim, tetapi gagal. Ada cerita yang menyebutkan, sebagian pengungsi membawa tumpukan tulang manusia, rambut wanita, dan anak-anak, korban kekejaman pasukan Salib, kepada khalifah dan para sultan. Ironisnya, Khalifah justru berkata: "Biarkan aku sibuk dengan urusan yang lebih penting. Merpatiku, si Balqa', sudah tiga hari menghilang dan aku belum melihatnya." (hal. 49-65). 

[5] Allah SWT berfirman, yang artinya: "Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa Putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu." (QS al-Maidah: 78-79). Jadi, karena tidak melarang tindakan munkar diantara mereka, maka kaum Bani Israel itu dikutuk oleh Allah. Rasulullah saw juga memperingatkan: "Tidaklah dari satu kaum berbuat maksiat, dan diantara mereka ada orang yang mampu untuk melawannya, tetapi dia tidak berbuat itu, melainkan hampir-hampir Allah meratakan mereka dengan azab dari sisi-Nya." (HR Abu Dawud, at-Turmudzi, dan Ibnu Majah). Juga, sabda beliau saw: "Hendaklah kamu menjalankan amar ma'ruf dan nahi munkar, atau Allah akan memberikan kekuasaan atasmu kepada orang-orang jahat diantara kamu, dan kemudian orang-orang yang baik diantara kamu berdoa, lalu tidak dikabulkan doa mereka itu.(HR al-Bazzar dan at-Thabrani).

[6] Uraian lebih jauh tentang al-Ghazali dan Perang Salib, lihat Adian Husaini, Hegemoni Kisten-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi (Jakarta: GIP, 2006), bagian Mukaddimah. Lebih jauh tentang bahaya kerusakan ilmu bisa dilihat, pada Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas: An Exposition of the Original Concept of Islamization (Kuala Lumpur: ISTAC, 1998).

[7] al-Kilani, Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib, 6-7. (Sebagai perbandingan, tidak kalah pentingnya jika kita mengkaji kesuksesan penyebaran dakwah Islam di wilayah Nusantara, khususnya di Tanah Jawa. Para juru dakwah adalah para wali atau ulama yang bekerja keras dalam mengubah kondisi masyarakat Indonesia, meskipun rakyat ketika itu dipimpin oleh penguasa non-Muslim. Pada akhirnya, rakyat di wilayah itu sendiri yang melahirkan pemimpin-pemimpin muslim, sehingga berdirilah berbagai kerajaan Islam di wilayah ini. Maulana Malik Ibrahim, misalnya, diperkirakan tiba di Jawa tahun 1399 M. Kerajaan Islam pertama di Jawa (Demak) baru berdiri tahun 1478 M. Raja Demak pertama, Raden Patah, adalah santri dari Sunan Ampel, yang tak lain adalah putra dari Maulana Malik Irahim. Lihat, Saifuddin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, (Bandung: al-Maarif, 1981).

[8] Secara umum, kondisi buku-buku Pelajaran Agama di sekolah saat ini masih banyak mengandung kelemahan dan kekeliruan. Sekedar contoh, sebuah buku Pendidikan Agama Islam untuk kelas 2 SMA keluaran sebuah penerbit di Bandung, justru merendahkan prestasi keilmuan para ulama di wilayah Nusantara: "Dapat dikatakan, bahwa ilmu-ilmu Islam yang berkembang pada masa itu, hanyalah ilmu tasawuf dan tarekat, disamping ilmu fiqih dan tauhid sebagai sekedar pelengkap ibadah semata. Para tokoh dan ulama yang muncul pada masa itu juga hanya ulama-ulama tasawuf dan tokoh-tokoh tarekat. Hampir tidak ditemukan nama-nama ulama fiqih, hadits, tafsir, dan yang lainnya, Sejarah Peradaban Islam di Dunia. Di Aceh dan Sumatera misalnya, muncul beberapa ulama nusantara kenamaan, seperti Syaikh Hamzah Fansuri, Syaikh Abdurrauf Singkel, Syaikh Nuruddin ar-Raniri, Syaikh Syamsuddin As-Sumatrani, Abdusshamad Al-Falimbani yang nota bene semua adalah ulama tasawuf dan tokoh tarekat tertentu. Di Jawa juga muncul beberapa ulama seperti Syaikh Nawawi Al-Bantani, Syaikh Siti Jenar dengan kelompok wali songonya, yang juga dapat dikatakan sebagai tokoh tasawuf dan penganut tarekat tertentu. Begitu juga di Sulawesi dan Kalimantan, terdapat nama-nama besar ulama tasawuf dan tokoh-tokoh tarekat. Misalnya, Syaikh Yusuf al-Makassari, Syaikh Arsyad al-Banjari, dan Syaikh Ahmad Khatib Syambas. Mereka telah belajar cukup lama di kawasan dunia Islam, dan pulang ke tanah air sebagai tokoh tasawuf dan tarekat."

[9] Salah satu masalah dan tantangan besar yang dihadapi oleh umat Islam saat ini adalah terjadinya hegemoni konsep keilmuan Barat dalam studi Islam di Perguruan Tinggi. Lebih jauh tentang fenomena ini lihat, Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular Liberal (Jakarta: GIP, 2005) dan Adian Husaini, Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi, (Jakarta: GIP, 2006).

DAFTAR PUSTAKA

http://insists.multiply.com/

http://www.lintas.me/article/memoridunia.blogspot.com/inilah-sejarah-jatuh-bangunnya-peradaban-islam/1

http://resky-ramadhony.blogspot.com/2011/02/sejarah-jatuh-bangunnya-peradaban-islam.html

http://www.iatekunsri.com/index.php/artikel/artikel-bebas/53-pelajaran-dari-jatuh-bangunnya-peradaban-dunia

http://sejarahperadabanislam.wordpress.com/2011/05/21/hello-world/

Sejarah Masa Dinasti dan Masuknya Islam di Vietnam

Masa Dinasti dan Masuknya Islam di Vietnam - Viertam berarti negeri selatan. Letak geografis nya yaitu berbatasan dengan Cina disebelah utara, Laos disebelah barat laut, Kamboja disebelah barat daya, dan laut Cina Selatan di sebelah timur. Terletak berada dikawasan Indocina. Mayoritas penduduk Vietnam adalah etnis Vietnam, Khmer, dan Cham. Adapun etnis yang terbesar adalah Vietnam/Kinh. Bangsa Vietnam memiliki sejarah yang panjang dapat ditarik kembali dari 2500 tahun yang lalu namun, adapun menurut legenda dapat ditarik kembali ke 4000 tahun yang lalu.

Sejak abad ke-11 sampai abad ke-10 Masehi yang mayoritas berada dalam kekuasaan genggaman kekaisaran Cina. Pada tahun 214 SM, beberapa tahun setelah Kisar Qin Shihuang mempersatukan tiongkok, kemudian mengirim bala tentaranya ke selatan Tiongkok untuk menaklukkan wilayah yang sekarang adalah Guandong, Guangxi, Fujian, dan utara Vietnam.

Selang puuhan tahun lamanya kemudian, tahun 203 SM, dinasti Qin mengalami kekacauan dan terpuruk, pada saat ini pemimpin militer Qin di Nanhai (sekarang Vietnam utara), Zhau Tuo mengambil kesempatan ini untuk membentuk negara sendiri, Nan Yue dengan Raja Wu. Ibukota negara Yu berada di daerah Guangzhou sekarang. Namun Nan Yue ditaklukkan oleh Kaisar Han Wudi dari Dinasti Han pada tahun 111 SM. Lebih dari 10 abad berikutnya Vietnam dikuasai oleh Dinasti Han, Dong Wu, Dinasti Jin, Dinasti Selatan, Dinasti Sui, dan Dinasti Tang.

A. Vietnam Masa Dinasti-dinasti
Pada masa ini pengaruh budaya Cina sudah merusak pada kehidupan sosial budaya bangsa Vietam, seperti nilai-nilai ajaran Konghucu, Taoisme, beriringan dengan itu juga berkembang kepercayaan Tam Giao (Tiga Agama), yaitu perpaduan Taoisme, kepercayaan masyarakat Cina dan Animisme Vietnam. Didominasi kerajaan utara mendorong munculnya kerajaan-kerajaan lokal seperti Dai Viet di Utara Champa di selatan.

Kerajaan Champa mulai terbentuk tahun 192 dan berakhir pada tahun 1700an seiring dengan adanya desakan dari kekuatan-kekuatan luar. Dimasa lalu, kerajaan tersebut telah menjalin hubungan erat dengan kerajaan Sriwajaya dan Majapahit di Nusantara. Dimasa kerajaan Champa, pengaruh budaya India deras masuk ke Vietnam, pengaruh budaya Budha dan Hindu serta kultur India mendominasi kehidupan masyarakat, buktinya terluhat dari bangunan arsitektural dan kehidupan ritual masyarakat. Pengaruh budaya India yang sampai ke Vienam ini juga sebagian dibawa melalui Nusantara.

Kerajaan Champa didirikan di Vietnam oleh orang-orang Cham yang secara etnis tidak mempunyai hubungan orang-orang Vietnam. Ketika kerajaan Funan yang berada sebelah selatan Champa dipengaruhi oleh China, kerajaan Champa selama 1600 tahun juga mendapatkan pengaruh dari China. Akibatnya Champa harus mengimbangi kekuatan diantara kedua negara tetangganya dalam hal jumlah penduduknya dan pola militer Vietnam di utara dan Khmer (Kamboja) di selatan

Seperti halnya funan, Champa menerapkan kekuatan perdagangan pelayaran laut yang berlaku hanya di wilayah yang kecil, di pertengahan abad ke VIII adalah waktu yang kritis bagi Champa, seperti Kamboja Champa harus bertahan atas sejumlah serangan dari Jawa, tetapi serangan dari Jawa tidak begitu lama berakhir pada awal abad ke-IX karena adanya serangan-serangan yang dilakukan oleh Champa.

Pada masa Hariwarman I Champa melakukan penyerangan-penyerangan terhadap provinsi Cina sebelah utara dengan kemenangan yang diperoleh Cina. Tidah hanya itu, Champa juga melakukan penyerangan terhadap Kamboja dibawah pimpinan Jayawarman II, Jayawarman adalah pendiri kerajaan Angkor. Serangan tersebut kemudian dibalas oleh Indrawarman II. Dibawah pimpinan Indrawarman II(854-893), didirikannya ibukota Indrapura di provinsi Quang Nam. Ia memperbaiki hubungan dengan Cina, pemerintahannya merupakan pemerintahan yang damai.

Indrawarman II mendirikan enam dinasti dalam sejarah Champa. Raja-rajanya lebih aktif daripada yang sebelumnya dalam perhatiannya terhadap negeri itu. Mereka tidak hanya mendirikan tempat suci baru, tetapi mereka juga menjaga dan melindungi bangunan-bangunan keagamaan tersebut dari para perampok dan memperbaikinya jika terjadi kerusakan.

Pemerintahan pengganti Indrawarman, Jayasimhawarman I, hubungan dengan Jawa menjadi erat dan bersahabat. Keluarga permaisurinya berziarah ke Jawa dan kembali dengan memegang jabatan tertinggi dengan sejumlah Raja dibawahnya. Hubungan ini menjelaskan pengaruh Jawa pada kesenian Champa.

Selama abad X banyak terjadi peristiwa penting di Champa. Tahun 907 dinasti T'ang jatuh di Cina dan orang Annam mengambil momentum itu untuk maju dan mendirikan kerajaan Dai-co-viet (Annam dan Tong-King) pada 939. Perubahan ini mulanya berpengaruh sedikit pada Champa, tetapi kemudian timbul keributan antara Champa dengan kerajaan-kerajaan baru itu. Kemudian Champa dikuasai dan mulai mencari pengakuan dari Cina. Tahun 988 terjadi pembalasan dari Champa dibawah pemerintahan raja Vijaya, setelah terjad perdamaian singkat, ia mendapat pengakuan dari Cina dan memperbaiki ibukota Indrapura.

Abad ke XI merupakan masa kehancuran Champa. Champa kehilangan provinsi dikarenakan direbut oleh Annam. Mereka mengirim misi ke Cina secara berturut-turut. Pada 1030 bersekutu dengan Suryawarman I di Angkor. Annam melakukan serangan besar-besaran terhadap Champa sehingga Champa mengalami kehancuran.

Dinasti VIII didirikan oleh seorang pemimpin dengan gelar Paramesrawaman I dan menghidupkan kembali kerajaannya, ia menekan pemberontakan disebelah selatan dan mengembangkan hubungan baik dengan Annam dan Cina dengan mengirim misi-misi. Seorang pangeran bernama Thang mendirikan dinasti IX dan beliau mengambil gelar Hariwarman IV dengan memperlihatkan kekuasaannya dan memperbaiki kerusakan yang disebabkan penyerangan dan memangkitkan kesejahteraan negerinya.

Politik Hariwarman IV memelihara hubungan baik dengan Annam. Kemudian sejak itu timbul keraguan hingga ia memutuskan untuk bekerjasama dengan Cina dan merencanakan penyerangan terhadap kerajaan Annam. Ketika ia mendapati kegagalan maka ia bertanggungjawab melindungi dari kemarahan dengan orang Annam, dan tawaran perdamainan secara teratur. 

Sedangkan kerajaan Khmer mulai menyerang Champa yang bagian utaranya telah berhasil dikuasai dan bagian selatannya adalah Panduranga, seorang raja baru, Jaya Hariwarman I bangkit pada tahun 1147. Setelah mendesak pasukan Khmer, kemudian terus menyerang dan mengembalikan Wijaya dan menyatukan kerajaan.

Jaya Hariwarman mengalami kesulitan yang belum teratasi, hingga pada tahun 1155 panduranga memberontak, tapi dapat diatasi dengan membayar upeti dengan teratur, kerusakan yang terjadi ia perbaiki dengan membangun candi-candi baru, serta mengirim utusan ke Cina. Kekuasaan Hariwarman I digantikan oleh seorang ovontutir yang bernama Jaya Indrawarman IV kemauannya adalah membalas dendam dengan menyerang Kamboja yang telah menyerang Champa oleh Suryawarman, namun gagal namun setelah mempersiapkan begitu lama Jaya Warman VII pendiri Angkor Thom, melakukan serangan terhada Champa, sekali lagi Champa jatuh ketangan Kamboja. Surya warman memutuskan untuk bersekutu dengan Kamboja.

Khmer menyerang Champa lagi - Masa Dinasti dan Masuknya Islam di Vietnam, Champa dikuasai Khmer selama 17 tahun. Kemenangan Mongol di Cina dianggap sebagai penyebab berhentinya perang antara Annam dan Champa, masalahnya sampai pada puncaknya yaitu ketika tahun 1281 ketika kesabaran Kublai Khan telah habis dan beliau mengirim marsekal "Sogatu" untuk mendesak pemerintahan Mongol di negeri itu.

B. Kedatangan Islam di Vietnam
Islam masuk ke Vietnam sejak kekhalifahan Utsman bin Affan. Dikisahkan, kekhalifahan ini mengirim utusan resminya pertama kali ke Vietnam dan Cina (Dinasti Tang) pada tahun 650 M. Ada pula yang mengisahkan bahwa Islam sampai ke negara yang beribu kota di Hanoi itu karena dibawa oleh pedagang Muslim dari Arab, India, Persia, ataupun Asia Tenggara, terutama Malaysia pada sekitar abad ke-10. 

Para pedagang tersebut akan berhenti untuk beristirahat dan berdagang di Vietnam yang saat itu masih dikuasai Kerajaan Champa sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke Cina. Masyarakat dari kerajaan itu sering disebut sebagai orang-orang Cham.

Jumlah penganut Islam meningkat ketika sultan Malaka memperluas kekuasannya pada 1471 setelah Kerajaan Champa hancur. Namun, Islam tidak menyebar luas di antara penduduk Vietnam sampai pertengahan abad ke-17. Pada pertengahan abad ke-19, banyak Muslim Champa di Vietnam yang ber-imigrasi ke Kamboja dan menetap di wilayah delta Sungai Mekong.

Pada abad ke-20, Malaysia memberikan pengaruh yang besar kepada Muslim Vietnam. Literatur keagamaan semakin banyak yang diimpor dari Malaysia. Bahkan, sejumlah ulama didatangkan dari Malaysia. Mereka memberikan khotbah di masjid-masjid dengan bahasa Melayu. Pada saat yang sama, semakin banyak pula warga Muslim Vietnam yang pergi ke Malaysia untuk belajar Islam.

Setelah berdirinya Republik Sosialis Vietnam pada 1976, sejumlah 55.000 Muslim Vietnam berimigrasi ke Malaysia. Sebanyak 1.750 Muslim mereka diterima sebagai imigran oleh Pemerintah Yaman dan tinggal di Ta'izz.

Namun, masih ada sejumlah Muslim yang tetap tinggal di Vietnam meski mereka berada dalam tekanan. Seperti dilaporkan para penulis pada masa itu, sejumlah masjid ditutup oleh pemerintah sosialis. Pada 1985, komunitas Muslim Vietnam, khususnya di Ho Chi Minh City, mulai terdiversifikasi. Mereka tidak hanya orang asli Vietnam.

C. Islam dan Kerajaan Champa-Vietnam
Sebelumnya, masyarakat Cham merupakan penganut agama Hindu dan telah menguasai bagian tengah dan bagian selatan Vietnam selama kurun waktu ratusan tahun. Seiring berjalannya waktu, mereka memeluk agama Islam. Kerajaan Islam Champa yang menjadi Negara Islam pertama di Asia Tenggara. Pada awal kemunculan Islam, makanan halal sangat sulit ditemukan di Vietnam. 

Kedatangan Islam di Champa dibuktikan dengan adanya dua buah prasasti kufi yang ditemukan di Phanrng (panduranga). Prasari tersebut bertarikh 1039 , dan yang satunya bertarikh 1035-1039 M, yang membuktikan bahwa orang Islam telah datang dn menetap di Champa sejak pertengahan abad ke-10. Dalam cerita tersebut disebutkan bahwa telah ada hubungan antara Chanpa dengan Islam sekitar tahun1000-1036 M. raja Champa pergi ke Makkah selama kurang lebih 37 tahun dan kembali lagi ke Champa.

Dari kedua prasasti kufi tersebut diatas, keduanya ditulis oleh dan berasal dari Syi'ah penulisnya adalah orang parsi (Islam parsi), salah satunya ditulis oleh Abu Kamil, yang mempunyai tujuan yang sama dengan orang Persia dan Iraq datang ke Champa diduga untuk mencari kekayaan. Islam dikawasan Panduranga menyebut dirinya Cham Bani ini memahami bahasa Arab "Bani" artinya anak atau keturunan, kebanyakan para pegawai bani memahami bahasa Arab dan memiliki salinan Al-Qur'an.

Islam masuk dan berkembangnya di Vietnam, khususnya Islam pada tahap awal tidak bisa dilepaskan dari kehadiran kerajaan dan etnis Campa, uraian tentang Islam di Vietnam diawali dengan uraian sejarah keberadaan Champa Kuno dan Etnis Champa.

Campa, menurut literatur Cina dari negeri bernama Lin-Yi (yang muncul pada 192 M), terletak dibagian tengah negeri Vietnam sekarang, antara Gate Of Annam (Hoanh Son) di uatara dan sungai Donnai selatan. Penduduk Lin-Yi berkata dalam bahasa Cham dari rumpun Austronesia. Sejak awal Lin-Yi negeri yang takluk pada china dan membayar upeti kepada China. Nama "Campa" disebut dan dipakai pertama kali dalam dua buah inskkripsi bahasa sansekerta, satunya bertarikh 658 M yang ditemukan bagian tengah Vietnam. Dan satu lagi ditemukan pada 668 M di kamboja.

Abad VIII merupakan puncak kerajaan Champa, yang ditandai dengan kekuasaan wilayahnya daan kemajuan peradabannya. Pada masa ini, Campa merupakan sebuah kerajaan persekutuan yang terdiri dari kerajaan negeri : Indrapura, Amarawati, Vijaya, Kauthara dan Pandurangan yang masing-masing mempunyai pemerintah yang otonom dengan ibu negara Indrapura (Quang Nam sekarang). Kerajaan Champa mempunyai hubungan dengan kerajaan-kerajaan tetangganya, dengan China dan Vietnam diuatara, Kamboja dibarat, dan Nusantara di selatan. Contoh secara teratur mengirim utusan-utusan dan mengadakan hubungan ekonomi dan keagamaan dengan China. 

Ajaran agama yang dianut masyarakat Campa pada abad VIII dan IX adalah buddha mahayana, yang merambah Champa melalui sami (Pendeta Buddha) yang datang dari Cina. Adapun relasinya dengan nusantara bermula ketika terjadi perompakan besar-besaran oleh orang Jawa penghujung abad VIII. Hubungan terjalin menjadi lebih baik dalm bentuk hubungan perdagangan dan persahabatan.

Pada abad IX, terjadi peralihan orientasi Champa dari China. Mulai jaman ini kebudayaan Campa termasuk sistem sosial keagamaan dan lain sebagainya, dipengaruhi oleh budaya India dan agama Hindu dan Budha. Pada 939 M, muncul kekuatan baru di wilayah ini, yakni Dai Viet (kemudian menjadi Vietnam). Mulai sejak itu terjadi peperangan yang berkepanjangan antara Vietnam dan Campa. Pada 982 M, Vietnam berhasil menghancurkan ibu kota Indrapuraraja Champa memindahkannya jauh ke selatan, yakni ke Vijaya (Binh Dinh sekarang). 

Namun pada 1044, Dai Viet (Vietnam) bahkan berhasil menduduki kota Vijaya dan membunuh rajanya. Berbagai usaha pernah dilakukan raja-raja Champa untuk membalas dendam dan menyerang Vietnam yang semakin dapat memperbesar wilayahnya. Suatu kali kerajaan Campa pernah kembali pada masa kejayaannya, meski hanya dalam waktu yang singkat, yaitu ketika diperintah oleh Che Bong Nga (1360-1390), dialah yang berhasil dalam usaha mengembalikan wilayah yang dirampas Vietnam dan dalam memerintah dengan cukup adil serta berjaya memerangi para perampok.

Pada 1471, Raja Vietnam Le Thanh Tong menyerang Champa secara besar-besaran, dan menghancurkan Vijaya, membunuh lebih 40.000 penduduk, mengusir lebih dari 30.000 lainnya dari bumi Champa, bahkan lebih jauh lagi dia telah menghancurkan sisa-sisa kebudayaan Champa yang dipengaruhi Hindu/Buddha dan kemudian menggantikannya dengan kebudayaan China/Vietnam. Dengan kemenangan Le Thanh Tong 1471 itu, tamatlah riwayat kerajaan Champa belahan utara, khususnya Indrapura, Amarawati, Vijaya. 

Selanjutnya yang bertahan adalah sisa-sisa kerajaan Champa belahan selatan, yaitu Kauthara dan Panduranga, yang diperintahi oleh Bo Tri Tri dan pengganti-penggantinya. Kerajaan Champa mulai menerima kebudayaan melayu serta Islam yang masuk melalui pelabuhan Panduranga dan Kauthara, dan juga meningkatkan hubungan dengan negeri-negeri di Melayu dan Nusantara. Bahkan dikabarkan bahwa raja Champa yang bernama Po Klau Halu (1579-1603) sudah memeluk Islam dan pernah mengirim tentaranya untuk membantu Sultan Johor di Semenanjung Malaka untuk berperang menentang Portugis pada 1511.

Sejarah Singkat Masa Dinasti dan Masuknya Islam di Vietnam

Bagaimanapun raja Ngunyen dari Vietnam menaklukan Khautara (1659) dan Panduranga (1697). Akibatnya, raja Pandurangan terakhir, Po Chei Brei terpaksa mengungsi meninggalkan negereinya bersama ribuan pengikutnya menuju Rong Damrei di Kamboja (Masa Dinasti dan Masuknya Islam di Vietnam). Pada 1832 penguasa Vietnam Minh Menh melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap sisa-sisa terakhir penduduk Champa Panduranga, dan merampas seluruh sawah ladang mereka serta memasukkan wilayah Pandurangan menjadi bagian Vietnam. Hal ini menandai lenyapnya sisa-sisa kerajaan Champa terakhir dari peta bumi untuk selamanya, walaupun kebudayaan dan etnis Champa tetap berlanjut dipengungsian yakni Kamboja.

Seperti telah diuraikan sebelumnya banyak orang Champa yang meninggalkan tanah airnya karena desakan Nan Tien atau pergerakan orang-orang Vietnam ke selatan. Untuk menyelamatkan diri mereka Hijrah ke Kamboja. Di Kamboja mereka bertemu dengan kelompok Melayu yang datang dari Nusantara. Akulturasi budaya yang terjadi karena persamaan agama dan rumpun bahasa Austronesia tersebut membentuk sebuah komunitas masyarakat baru yang di sebut Melayu-Campa atau Java-Campa.

Referensi
Khey, Huey. Peradaban Asia dari Zaman Kuno Hingga 1800 M, Jakarta : PT Elex Media Komputindo, 2013.

http://fauzihistory.blogspot.com/2009/04/sejarah-vietnam-kuno.html.

http://sejarahmnm.blogspot.com/2013/12/sejarah-vietnam.html.

http://ajiraksa.blogspot.com/2012/06/perkembangan-islam-di-vietnam.html

http://id.muslimvillage.com/2010/09/08/5983/the-challenges-of-being-muslim-in-vietnam/

http://www.erfan.ir/54638.html

http://wartasejarah.blogspot.co.id/2014/07/vietnam-masa-dinasti-dan-masuknya-islam.html

Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Brunei Darussalam

Masuk dan Berkembangnya Islam di Brunei Darussalam - Sejarah yang akan kita pelajari kali ini masih berkaitan dengan sejarah perkembangan Islam di dunia yaitu khususnya Islam yang berada di negara Brunei Darussalam. Pada kesempatan ini kita akan membahas memerapa poin dalam kaitannya dengan proses masuknya Islam ke negara tersebut dan juga mengenai perkembangannya.

Brunei Darussalam adalah sebuah negara kecil yg sangat makmur. Di bagian utara terdapat pulau Borneo (Kalimantan) dan berbatasan dengan Malaysia. Secara geografis Brunei adalah suatu negara di pantai Kalimantan bagian utara, berbatasan dengan laut Cina Selatan, di sebelah utara dan dengan Serawak di sebelah Selatan barat dan timur.

Catatan tradisi lisan diperoleh dari Syair Awang Semaun yang menyebutkan Brunei berasal dari perkataan baru "Nah" yaitu setelah rombongan klan atau suku sakai yang dipimpin Pateh Berbei pergi ke sungai Brunei mencari tempat untuk mendirikan negeri baru. Setelah mendapatkan kawasan tersebut yang memiliki kedudukan yang sangat strategis yaitu diapit oleh bukit dan air mudah untuk dikenali serta untuk transportasi dan kaya ikan sebagai sumber pangan di sungai, maka mereka mengucapkan perkataan baru yaitu "nah" yang berarti tempay itu sangat baik, berkenanaan dan sesuai dihatu mereka untuk mendirikan negeri yang mereka imginkan.[1]

Kemudian perkataan baru "nah" itu lama kelamaan berubah menjadi "Brunei". Diperkirakan islam di Brunei datang pada tahun 977 M melalui jalur timur oleh pedagang-pedagang dari negeri Cina. Catatan bersejarah membuktikan penyebaran islam di Brunei adalah batu tersilah. Catatan pada batu ini menggunakan bahasa melayu dan huruf arab. Dengan penemuan itu membuktikan adanya pedagang arab yang datang ke Brunei dan Selatan Borneo untuk menyebarkan dakwah islam.

Selain itu ada juga yang menyatakan bahwa islam diperkirakan masuk pada abad ke-13 M yaitu ketika Sultan Mahmud Shah pada tahun 1368 telah memeluk islam akan tetapi jauh sebelum itu, sebenarnya terdapat bukti bahwa islam telah berada di Brunei Darussalam ini. Islam belum cukup berkembang secara luas, barulah ketika Awang Khalak Betatar memeluk islam dengan gelar Sultan Muhammad Shah. Islam mulai berkembang secara luas. Ada 3 teori yang menyatakan munculnya kerajaan Brunei Darussalam:

  • Munculnya Kesultanan Melayu yaitu ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis pada taun 1511 M
  • Kesultanan Melayu Islam Brunei muncul tidak lama selepas jatuhnya Kerajaan Melaka kira-kira pada awal abad ke-15 M
  • Kesultanan Melayu Islam Brunei muncul pada tahun 1371 M yaitu sebelum munculnya kerajaan islam Melaka.[2]

Silsilah kerajaan Brunei terdapat pada Batu Tarsilah yang menuliskan silsilah raja-raja Brunei pertama kali memeluk islam (1368) sampai kepada Sultan Muhammad Tajuddin (Sultan Brunei ke-19 memerintah diantara 1795-1804 dan 1804-1807 M). 

Agama Hindu-Budha dahulu pernah dianut oleh penduduk Brunei. Sebab telah menjadi kebiasaan dari para musafir agama tersebut, apabila mereka sampai disuatu tempat, mereka akan mendirikan Stupa sebagai tanda serta pemberitahuaan mengenai kedatangan mereka untuk megembangkan agama tersebut di tempat itu. Replika batu nisan P'u Kung Chih Mu, batu nisan rokayah binti Sultan Abdul Majid Ibni Hasan Ibni Muhammad Shah Al-Sultan, dan batu nisan Sayid Alwi Ba Faqih (Mufaqih) pula menggambarkan mengenai kedatangan agama islam di Brunei yang dibawa oleh musafir, pedagang-pedagang dan mubaligh-mubaligh islam sehinggga agama islam itu berpengaryh dan mendapat tempat baik penduduk lokal maupun keluarga kerajaan islam menjadi agam resmi negara semenjak negara Awang Alak Betatar masuk islam (1406-1402). Awang Alak Betatar ialah raja Brunei yang pertama memeluk islam dengan gelar Paduka Seri Sultan Muhammmad Shah. Dia terkenal sebagia pengasas kerajaan islam di Brunei dan Borneo. Pedagang dari Cina yang pernah ke Brunei merekamkan beliau sebagai Ma-Ha-Mo-Sha. Beliau meninggal dunia pada 1402. [3]

Awang Alak menganut islam dari Syarif Ali, dikatakan, Syarif Ali adalah keturunan Ahlul Bait yang bersambung dengan kelurga Rasullah melalui cucu baginda, Saidina Hassan. Pendekatan dakwah yang dilakukan Syarif Ali tidak sekedar menarik hati Awang Alak, dakwahnya menambat hati rakyat Brunei. Dengan kebaikan dan sumbangan besarnya dalam dakwah islam di Brunei, beliau dinikahkan dengan puteri Sultan Muhammad Shah. Setelah itu beliau dilantik menjadi Sultan Brunei atas persetujuan pembesar dan rakyat setempat, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam Di Brunei Darussalam.

Sebagai pemimpin agama dan ulama Syarif Ali gigih mendaulatkan agama islam. Diantaranya membina mesjid dan melaksanakan hukum islam dalam pentadbiran negara. Kegiatan membina mesjid ini dijadikan pusat kegiatan keagamaan dan penyebaran islam. Setelah tujuh tahun memerintah Brunei, pada 1432 Syarif Ali meninggal dunia dan dimakamkan di makam Diraja Brunei.

Perkembangan Islam semakin maju dan setelah pusat penyebaran dan kebudayaan islam Malaka jatuh ketangan Portugis (1511), sehingga banyak ahli agama islam pindah ke Brunei. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis tersebut telah menyebabkan Sultan Brunei mencapai zaman kegemilangannya dari abad ke-15 hingga abad ke-17 sewaktu memperluas kekuasaanya ke seluruh pulau Borneo dan ke Filiphina di sebelah utaranya.[4]

Kemajuan dan perkembangan islam semain nyata pada masa pemerintahan Sultan ke-5 yaitu Sultan Bokiah (1485-1524), yang wilayahnya meliputi Suluk, Selandung, seluruh pulau Kalimantan (Borneo), kepulauan Sulu, kepulauan Balabac, pulau Banggi, pulau Belembangan, mateni dan utara pulau pahlawan sampai ke Manila.

Pada masa Sultan ke-9 yaitu Sultan Hassan (1605-1619) dilakukan beberapa hal yang menyangkut tata pemerintahan agama, karena agama memainkan peranan penting dalam memandu negara Brunei kearah kesejahteraan, kedua menyusun adat istiadat yang dipakai dalam semua upacara baik suka maupun duka.

Disamping menciptakan atribut kebesaran raja dan perhiasaan raja ketiga memuatkan Undang-Undang Islam yaitu hukum Qanun yang mengandung 46 pasal dan 6 bagian. Aturan adat istiadat kerajaan dan istana tersebut masih kekal hingga sekarang. Pada tahun 1658 Sultan Brunei mengahdiakan kawasan Timur laut kalimantan kepada Sultan Sulu di Fliphina Selatan sebagai penghargaan terhadap Sultan Sulu dalam menyelesaikan perang saudara antara Sultan Abdul Mubin dengan Pangeran Mohidin. Persengketaan dalam kerajaan Brunei merupakan suatu faktor yang menyebabkan kejatuhan kerajaan tersebut, yang bersumber dari pergolakan dalam disebabkan perebutan kuasa antara ahli waris kerajaan, juga disebabkan timbulnya pengaruh kuasa penjajah Eropa yang menggugat corak perdagangan tradisi serta memusnahkan asas ekonomi Brunei dan Kesultanan Asia Tenggara yang lain.

Brunei Darussalam merupakan negara kerajaan dengan mayoritas penduduknya beragama islam. Brunei adalah salah satu kerajaan tertua di Asia Tenggara. Sebelum abad ke-16 Brune memainkan peranan penting dalam penyebaran agama islam di wilayah Fliphina. Sesudah merdeka pada 1 Januari 1984, Brunei kembali menunjukan usaha serius dalam upaya penyebaran syiar islam, termasuk dalam suasana politik yang baru masuk.

Diantara langkah-langkah yang diambil ialah mendirikan lembaga-lembaga modern yang selaras dengan tuntutan islam. Sebagai negara yang menganut sistem hukum agama, Brunei Darussalam menerapkan hukum Syariah dalam perundangan negara. Untuk mendorong dan menopang kualitas keagamaan masyarakat didirikan sejumlah pusat kajian islam serta lembaga keuangan islam. Sama seperti Indonesia yang mayoritas penduduknay menganut agama islam dengan mazhab syafi'i, di Brunei jiga demikian. Konsep akidah yang dipegangnya adalah ahlulsunnah waljamaah. Bahkan sejak memproklamasikan diri sebagai negara merdeka, Brunei telah memastikan konsep "Melayu Islam Beraja" sebagai Falsafah negara dengan seorang Sultan sebagai kepala negaranya. Brunei merupakan salah satu kerajaan islam tertua di Asia Tenggara dengan latar belakang islam yang gemilang.

Kerajaan Brunei Darussalam adalah negara yang memiliki corak pemerintahan monarki konstitusional dengan Sultan yang menjabat sebagai kepala negara kepala pemerintahan, merangkup sebagai perdana mentri dan mentri pertahanan dengan dibantu oleh dewan penasehat kesultanan dan beberapa mentri yang dipilih dan diketahui oleh Sultan sendiri. Sultan Hassanal Bolkiah yang gelarnya diturunkan dalam wangsa yang sama sejak abad ke-15, ialah kepala negara serta pemerintahan Brunei. Islam benar-benar berfungsi sebagai pandangan hidup rakyat Brunei dan satu-satunya ideologi negara. Umtuk itu di bentuk jabatan hal Ehwal agama yang bertugas menyebarkan paham islam.

Untuk kepentingan pemerintah agama islam, pada tanggal 16 September 1985, dilainkan pusat dakwah yang juga bertugas bertugas melaksanakan progra tugas dakwah serta pendidikan kepada pegawai-pegawai agama serta msyarakat luas dan pusat pemeran perkembangan dunia islam. Di Brunei orang-orang cacat dan anak yatim menjadi tanggungan negara. Seluruh pendidikan rakyat (dari taman pendidikan kanak-kanak sampai ke perguruan tinggi) dan pelayanan kesehatan diberikan secara gratis.

Masuk Berkembangnya Islam Brunei Darussalam
Foto: Peta Brunei Darussalam/saripedia

Geliat keislaman di Brunei Darussalam jelas terlihat pada saat hari-hari besar islam. Tidak jauh berbeda dengan Indonesia seperti Maulid nabi Muhammad SAW, Nuzulul Qur'an dan isra' mi'raj. Pada setiap hari besar islam, pihak kesultanan Brunei selalu menyelenggarakan acara perayaan.(Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam Di Brunei Darussalam) Bahkan, Sultan Hassanal Bolkiah selaku pemimpin negara mewajibkan para pegawai kerajaan untuk menghadiri peringatan tersebut. Proses pengembangan islam ini oleh pemerintah Brunei utamanya ditekankan pada bidang pendidikan. Langkah mengembangkan islam dalam sendi-sendi masyarakat di Brunei dilaksanakan dengan hati-hati agar proses itu berjalan seimbang. Proses pengislaman itu diatur sedemikian rupa hingga tidak memberikan dampak tragedi 2 September tidak begitu dirasakan diketahui langkah masyarakat Brunei.[5]

Referensi:
[1] Awang Muhammad Jamil Al-Sufri.1992. Liku-Liku Pencapaian Kemerdekaan Negara Brunei Darussalam Cetakan Pertama. Jakarta: Jabatan Pusat Sejarah
[2] www.academia.edu
[3] http://wikipedia.org/wiki/islam_di_Brunei
[4] Van Hoeve.1999.Ensiklopedia Islam. Jakarta: PT. Ichtiar Baru
[5] http://youcankymayeli.blogspot.com

Sejarah Singkat Kerajaan Makassar

Sejarah Singkat Kerajaan Makassar - Sejarah kerajaan Makassar sebenarnya terdiri atas 2 kerajaan yakni kerajaan Gowa dan Tallo. Kemudian, kerajaan itu bersatu dibawah pimpinan raja Gowa yaitu Daeng Manrabba. Setelah menganut agama Islam, Ia bergelar Sultan Alauddin. Raja Tallo, yaitu Karaeng Mattoaya yang bergelar Sultan Abdullah, menjadi mangku bumi. 

Bersatunya kedua kerajaan tersebut bersamaan dengan tersebarnya agama Islam ke Sulawesi Selatan. Pusat pemerintahan dari Kerajaan Makassar terletak di Sombaopu. Letak kerajaan Makassar sangat strategis karena berada di jalur lalu lintas pelayaran antara Malak dan Maluku. Letaknya yang sangat strategis itu menarik minat para pedagang untuk singgah di pelabuhan Sombaopu. Dalam waktu singkat, Makassar berkembang menjadi salah satu Bandar penting di wilayah timur Indonesia. Tapi sebelum kita lebih jauh membahas mengenai hal ini mari baca juga:

1) Peninggalan kerajaan makassar 
2) Sejarah berdirinya kerajaan makassar 
3) Runtuhnya kerajaan makassar 
4) Sumber sejarah kerajaan makassar 
5) Letak kerajaan makassar 
6) Makalah kerajaan makassar 
7) Kerajaan makassar wikipedia 
8) Artikel kerajaan makassar

Kehidupan Politik Kerajaan Makasar
Perkembangan pesat kerajaan Makassar tidak terlepas dari raja-raja yang pernah memerintahnya, yaitu seperti berikut ini:

Raja Alauddin
Dalam abad ke-17 M agama Islam berkembang cukup pesat di Sulawesi Selatan. Raja Makassar yang pertama memluk Islam bernama Raja Alauddin yang memerintah Makassar dari tahun 1561-1638 M. dibawah pemerintahannya, Kerajaan Makassar mulai terjun dalam dunia perdagangan (dunia maritim) perkembangan ini menyebabkan meningkatnya kesejahteraan kerajaan Makassar. Tetapi sewafatnya raja Alauddin, keadaan pemerintahan kerajaan tidak dapat diketahui dengan pasti.

Sultan Hasanuddin
Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, kerajaan Makassar mencapai masa kejayaannya. Dalam waktu yang cukup singkat Kerajaan Makassra telah berhasil menguasai seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Cita-cita Sultan Hasanuddin untuk menguasai sepenuhnya jalur perdagangan nusantara mendorong perlyasan kekuasaanya ke kepulauan Nusa Tenggara seperti Sumbawa dan sebagaian Flores. Dengan demikian seluruh aktifitas kerajaan Makassar. Keadaan seperti itu ditentang oleh Belanda yang memilikidaerah terhalang oleh kekuasaan kerajaan Makassar. 

Pertentangan antara Makassar dan Belanda sering menimbulkan peperangan. Keberanaian Sultan Hasanudin untuk memporak porandakan pasukan Belanda di Maluku, mengakibatkan Belanda semakin terdesak. Atas keberaniannya, Belanda memberi julukan kepada sultan Hassanudin dengan sebutan "Ayam Jantan dari Timur", sejarah kerajaan Makassar.

Dalam upaya menguasai Kerajaan Makassar, Belanda menjalin hubungan dengan Raja Bone, yaitu Arung Palaka. Dengan bantuan Arung Palaka, pasukan Belanda berhasil mendesak Kerajaan Makassar dan menguasai ibukota kerajaan.Akhirnya Sultan Hasanuddin terpaksa harus menandatangani Perjanjian Bongaya pada tahun 1667 M yang isinya antara lain sebagai berikut.
  1. VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie), yaitu kompeni dagang Belanda memperoleh hak monopoli dagang di Makassar.
  2. Belanda dapat mendirikan benteng di pusat Kerajaan Makassar yang diberi nama Benteng Rotterdam.
  3. Makassar harus melepaskan daerah kekuasaannya seperti Bone dan pulau-pulau di luar wilayah Makassar.
  4. Aru Palaka diakui sebagai raja Bone.

Meskipun telah menandatangani Perjanjian Bongaya, orang-orang Makassar tetap melakukan perlawanan yang berlangsung selarna dua tahun dengan pusat pertahanan Sombaopu. Namun, Belanda tetap berupaya merebut pertahanan itu dengan menghancurkan dinding benteng dan akhirnya Sultan Hasanuddin menyerah.

Mapasomba
Setelah Sultan Hasanuddin turun tahta, ia digantikan oleh putranya yang bernama Mapasomba. Sultan Hasanuddin sangat berharap agara Mapasomba dapat bekerja sama dengan Belanda. Tujuannya agar kerajaan Makassar dapat bertahan. Ternya Mapasomba jauh lebih keras daripada Ayahnyasehingga Belanda mengerahkan pasukan besar-besaran untuk menghadapi Mapasomba. Pasukan Mapasomba berhasil dihancurkan dan ia tidak diketahui nasibnya. Dengan kemenangan itu, Belanda berkuasa sepenuhnya atas Kerajaan Makassar.

Kehidupan Sosial Kerajaan Makasar
Kehidupan Sosial masyarakat kerajaan Makassar diwarnai oleh ajaran agama Islam. Mayoritas masyarakat Makassar beragama Islam sampai sekarang. Dwi tunggal Sultan Alauddin dan Sultan Abdullah sangat giat mengislamkan rakyatnya. 

Mereka memperluas daerah kekuasaannya tidak hanya pada pulau sekitarnya, tetapi juga sampai bagian Timur kepulauan Nusa Tenggara. Mereka juga berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dengan berpegang teguh pada keyakinan bahwa Tuhan menciptakan lautan untuk semua hamba Nya.

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Makasar
Kerajaan Makassar yang terletak di barat daya Sulawesi itu sangat strategis. Karena terletak ditengah jalur perdagangan antara Maluku dan Malaka. Kerajaan itu kemudian berkembang pesat menjadi pusat perdagangan. Kegiatan perekonomian masyarakat Makassar bertumpu pada perdagangan dan pelayaran. Terlebih lagi masyarakat Sulawesi terkenal sebagai pelaut ulung dan pemberani dalam mengarungi samudera.

Berkembangnya Makassar sebagai pusat perdagangan di wilayah timur Indonesia mengakibatkan banyak pedagang asing seperti portugis, Inggris, dan Denmark berdagang di Makassar. Dengan kapal jenis pinisi dan lambo, pedagang Makassar memegang peranan penting dalam perdagangan di Indonesia.

Sejarah Singkat Kerajaan Makassar

Guna mengatur pelayaran dan perdagangan dalam wilayahnya, kerajaan Makassar menyusun hukum perniagaan yang disebut Ade Allopiloping Bicaranna Pabbahi'e.

Kehidupan Budaya Kerajaan Makasar
Karena kerajaan Makassar bersifat maritime maka kebudayaannya dipengaruhi oleh keadaan tersebut, seperti pembuat alat penangkap ikan dan kapal pinisi. Sampai sekarang kapal pinisi dari Sulawesi Selatan masih menjadi salah satu kebanggan bangsa Indonesia. Disamping itu, masyarakat kerajaan Makassar juga mengembangkan seni sastra, yaitu kitab Lontara.Mereka juga mengembangkan kebudayaan lainnya, seperti seni bangunan dan seni suara.

Daftar Pustaka
http://www.kumpulansejarah.com/2013/08/sejarah-kerajaan-makassar.html
http://chandrajoker73.blogspot.com/2012/04/sejarah-kerajaan-makassar.html
http://miraclekidx.blogspot.com/2012/03/sejarah-perkembangan-kerajaan-di.html

Sejarah Singkat Sunan Giri

Sejarah Singkat Sunan Giri Sebagai Aktor Berdirinya Negara Islam Demak - Yang akan kita bahas kali ini adalah sejarah singkat mengenai Sunan Giri dan hubungannya dengan berdirinya Negara Islam Demak. Nama kecil Sunan Giri adalah Jaka Samudra ayahnya Maulana Ishak Syekh Awalul Islam dari Pasai, Ibunya Sekardadu, putri Raja Blambangan Lahir sekitar 1443 M, Masa kecilnya mengenyam pendidikan di Pesantren Ampel Denta, setelah menginjak remaja bersama Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang) ditugaskan Sunan Ampel belajar ke Mekkah dan selanjutnya menempuh pedidikan di Negara Islam Pasai oleh Bapaknya Maulana Ishak. 

Setelah selesai menempuh pendidikan di Pasai, Raden Paku (Gelar yang diberikan oleh Sunan Ampel) melaksanakan pesan dari ayahnya, Syekh Maulana Ishak untuk mendirikan pusat dakwah Islam di wilayah Gresik (Sepertinya Syekh Maulana Ishak ingin anaknya melanjutkan dakwah Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gresik), tapi ia diminta oleh Syekh untuk mencari tanah yang sama persis dengan tanah yang di berikan Syekh dalam bungkusan.

Di kisahkan selama 40 hari ia bertafakur meminta petunjuk dari Allah SWT, selesai bertafakur ia pergi mengembara. Di sebuah perbukitan di Desa Sidomukti, Kebomas, ia kemudian mendirikan Pesantren Giri. Sejak itu Raden Paku dikenal dengan Sunan Giri. Dalam bahasa Sansakerta, "giri" berarti Gunung. Syahdan, pesantren Giri terkenal ke seluruh penjuru Jawa, bahkan sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Menurut Babad Tanah Jawi murid Sunan Giri menyebar sampai ke Cina, Mesir, Arab dan Eropa. 

Di daerah Gresik dan sekitarnya, Kewalian Giri Kedhaton sangat dihormati dan ditaati. Bahkan untuk urusan politik pun diserahkan kepada kewalian Giri Kedhaton, sehingga disana juga berdiri sebuah komunitas yang "mirip kerajaan". Pada masa Majapahit, Kewalian Giri Kedhaton merupakan oposisi yang merisaukan para penguasa Majapahit. Kewalian Giri mendapat sokongan dari para pedagang di sepanjang Pantai Utara Jawa. Tak urung, Majapahit melakukan penyerangan ke Kewalian Giri sebanyak dua kali. Namun kedua serangan itu kandas alias gagal.

Nama Sunan Giri tidak bisa dilepaskan dari proses pendirian Negara Islam Demak. Ia adalah aktor yang menjadi bagian dalam merencanakan berdirinya Negara Islam serta terlibat dalam penyerangan ke Majapahit sebagai penasihat militer.

Dalam Babad Demak dikisahkan, ketika panglima bala tentara Islam Sunan Ngudung syahid dalam peperangan dengan Majapahit, suasana memprihatinkan melanda seluruh balatentara Islam. Sunan Bonang yang bertindak sebagai Panglima tertinggi Angkatan Perang Islam memilih Sunan Kudus, putra Sunan Ngudung, sebagai panglima perang menggantikan ayahandanya. Dalam penunjukan itu Sunan Bonang berkata kepada Sunan Kudus bahwa ia akan didampingi oleh Sunan Giri dalam penyerangan ke Majapahit beserta para wali lainnya.

Tidak hanya Sunan Giri yang menyertainya tetapi seluruh kekuatan Laskar Giri Kedhaton juga ikut serta. Sunan Giri tidak saja mengirimkan pasukannya tetapi juga dialah yang memerintahkan Bupati Sumenep, Pamekasan, Balega dan Panaraga agar mengerahkan tentaranya ikut dalam barisan Islam. Dalam peperangan itu pasukan Islam mendapat kemenangan besar. Masa Hindu berlalu kemudian tergantikan dengan Islam.

Ketika Kerajaan Majapahit runtuh 1478 M, para wali memproklamasikan berdirinya Negara Islam Demak dan diputuskan Bintoro sebagai pusatnya. Sunan Giri dipercaya untuk meletakan dasar-dasar negara masa perintisan selama 40 hari. Setelah 40 hari, Sunan Giri memangku jabatan, ia menyerahkan tampuk kepemimpinan Islam kepada Raden Fatah, putera Raja Majapahit, Brawijaya Kertabhumi.

Sejarah Singkat Sunan Giri

Ketika Sunan Ampel ketua para Wali wafat, Sunan Giri diangkat sebagai penggantinya. Atas usulan Sunan Kalijaga, ia diberi gelar Prabu Satmata, Sejarah Singkat Sunan Giri.

Menurut De Graff, lahirnya berbagai kerajaan Islam seperti Demak, Pajang dan Mataram, tidak lepas dari peranan Sunan Giri dan penerus Giri Kedaton. Pengaruhnya, kata sejarawan Jawa itu, melintas sampai ke luar Pulau Jawa seperti Makasar, Hitu dan Ternate. Konon, seorang raja barulah sah kerajaanya kalau sudah direstui oleh Sunan Giri.

Daftar Pustaka:
http://h4ck3rt3m4y4n9.blogspot.com/2011/07/proklamasi-berdirinya-negara-islam-demak.html
http://opsi-2.blogspot.com/p/sejarah-sbg-literatur-pembanding.html
Ulama Pembawa Islam Di Indonesia Dan Sekitarnya, Lentera, 1996.
Ulama-ulama perintis: biografi pemikiran dan keteladanan, Majelis Ulama Indonesia, Kota Bandung, 2008.

Sejarah Singkat Sunan Ampel

Mengenal Sejarah Singkat Sunan Ampel - Sejarah Indonesia kali ini akan membahas mengenai sejarah singkat dari Sunan Ampel khususnya yang berkaitan dengan peran Sunan Ampel pada penyebaran Islam di di Jawa. Dewan Wali Sanga berikutnya adalah Sunan Ampel. Lahir pada tahun 1401 M, nama kecilnya adalah Raden Rahmat, beliau adalah putera dari Syekh Maulana Malik Ibrahim bapak para wali tanah Jawa dari ibu seorang puteri Raja Campa (Kamboja). Raden Rahmat melanjutkan perjuangan bapaknya dalam menegakan Islam di Tanah Jawa.

Raden Rahmat seusia muda sebelum 20 tahun tinggal dengan Ibunya di Campa (Kamboja). Kedatangan Raden Rahmat ke Jawa, sebelumnya singgah dulu di Palembang selama 2 bulan saat Raden Rahmat berusia 20 tahun dan berhasil mengislamkan Arya Damar Raja di Palembang. Kemudian melanjutkan pelayaran ke Majapahit dengan singgah di Gresik sekitar tahun 1421/1422 M (jadi setelah Bapaknya Maulana Malik Ibrahim wafat) mengunjungi Syekh Jumadil Kubra.

Biografi sunan ampel singkat
Sejarah sunan ampel lengkap
Sejarah sunan ampel pdf
Sejarah makam sunan ampel
Sejarah masjid sunan ampel
Riwayat hidup sunan ampel
Peninggalan sunan ampel
Sejarah sunan giri

Raden Rahmat menetap di Ampel Denta (Surabaya), menurut penuturan Babad Gresik, Raden Rahmat berhasil menjadikan daerah Ampel Denta yang semula berair dan berlumpur menjadi daerah yang makmur. Di sini beliau mendirikan pesantren, sehingga Ampel menjadi pusat dakwah Islam, sehingga Raden Rahmat digelari Sunan Ampel.

Intensitas perjuangan penegakan Islam di tanah Jawa lebih akseleratif dan terorganisir dimulai sejak kepemimpinan Sunan Ampel yaitu dengan merintis tanah Ampel Denta sebagai basis dakwah sekitar tahun 1422 M, sampai kejatuhan Kerajaan Majapahit tahun 1478 M atau sekitar 56 tahun. 

Kita kadang membayangkan Sunan Ampel atau para Walisanga lainnya adalah orang yang sudah tua renta yang memiliki kesaktian yang madraguna, tetapi kalau kita telusuri secara waktu meskipun banyak perdebatan dan ketidakpastian penulisan sejarah berkenaan dengan waktu dan usia, tapi bisa dipastikan bahwa Sunan Ampel berkiprah bagi perjuangan penegakan Islam adalah seorang tokoh muda yang berprestasi. Hitungannya pendirian pesantren Ampel Denta yang didirikan setelah menikah dengan putri Tumenggung Wilwatikta pada usia sekitar 25 Tahun, ini berarti Sunan Ampel adalah da'i muda belia yang menjadi pelopor dakwah tanah Jawa.

Pesantren Ampel Denta oleh Sunan Ampel dan didaerah Giri oleh Sunan Giri adalah dua institusi pendidikan tempat pengkaderan pejuang-pejuang Islam paling penting di masa itu. Pesantren Ampel Denta Surabaya melahirkan kader Sunan Ampel diantaranya : Raden Patah (Raja Demak), Sunan Kalijaga (Menantu), Raden Paku (Sunan Giri), Raden Makdum (Sunan Bonang), Syarifudin (Sunan Drajat) dan Maulana Ishaq (Blambangan), Dari Giri Akselerasi dakwah Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara diantaranya Sulawesi, Maluku, Ternate, Tidore.

Melalui pesantren yang terus di bina sungguh-sungguh, Sunan Ampel berhasil menelurkan orang-orang yang ahli agama dan menguasai ajaran Islam serta mempunyai dedikasi yang tinggi dalam mengamalkan dan memperjuangkan Islam.

Ada aspek strategis Ampel sebagai pusat dakwah Islam yang dikomandani oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel), sebab Ampel (Surabaya saat itu) merupakan pintu gerbang utama kerajaan Majapahit. Dengan adanya pusat dakwah di Ampel sebagai pintu gerbang Majapahit, maka pengaruh dakwah Islam yang sebelumnya berasal dari Gresik (yang dirintis oleh Sunan Gresik atau Syekh Maulana Malik Ibrahim bapak-nya Sunan Ampel) menjadi lebih gencar dan menusuk jantung Ibukota Majapahit.

Perkembangan Ampel Denta sebagai suatu komunitas di Surabaya yang dihuni oleh Umat Islam pada giliranya menjadi sentra pengkaderan Islam yang paling berpengaruh di Jawa pada pertengahan abad ke-15. 

Sunan Ampel telah menjadikan pusat Majapahit sebagai sasaran dakwah utama (wilayah basis target dakwah). Langkah yang ditempuhnya adalah dengan membagi wilayah inti Majapahit sesuai hirarki pembagian wilayah negara bagian saat itu kedalam beberapa wilayah yang masing-masing wilayah di koordinir oleh para kader Ampel Denta dan sahabat Sunan Ampel, diantaranya:
  1. Raden Ali Murtadho saudara tua Sunan Ampel, diberi gelar Raden Santri ditetapkan menjalankan tugas untuk memperkuat basis pertahanan Islam di daerah Gresik.
  2. Raden Burereh (Abu Hurairah) ditempatkan di Majagung dengan gelar Pangeran Majagung.
  3. Maulana Ishak ditempatkan di Blambangan dengan gelar Syekh Maulana Ishak.
  4. Maulana Abdullah dikirim ke daerah Pajang dengan gelar Syekh Suta Maharaja.
  5. Usman Haji ditentukan memasuki kerajaraan Matahun dan bertempat di Ngudung dengan gelar Pangeran Ngudung.
  6. Kafilah Husen ditempatkan di Madura dan bergelar Kafilah Husen.
  7. Kiyai Bah Tong (Kakek Raden Fatah) ditempatkan di wilayah Lasem dengan gelar Syekh Bentong.
  8. Raden Rahmat atau Sunan Ampel sendiri mengembangkan dakwahnya di wilayah penting ibukota kerajaan di Trowulan, serta pelabuhan-pelabuhan penting Majapahit yaitu Surabaya, Canggu dan Jedong.

Program selanjutnya adalah pengiriman kader-kader dakwah ke berbagai negara bawahan Majapahit untuk gelombang ke dua dengan wilayah target dakwah sudah lebih ke arah pedalaman Jawa. Kader-kader Ampel Denta Angkatan kedua yang mayoritas dari kalangan muda, kader dakwah tersebut diantaranya :
  1. Raden Hamzah (Putra Sunan Ampel yang menurut cerita tradisi Syekh Kambilah) ditempatkan di Tumapel dengan gelar Pangeran Tumapel.
  2. Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang) di tempatkan di Daha dengan gelar Pangeran Anyakrawati.
  3. Raden Mahmud (dalam cerita Babad disebut Syekh Mahmud) ditempatkan di sepanjang Kahuripan dengan gelar Pangeran Kahuripan.
  4. Syekh Maulana Ishak ditempatkan di Pasuruan dan mengawini Rarasatari, putri Bupati Pasuruan yang tak lama kemudian pindah ke Pandan Arang.
  5. Raden Husin (Anak Arya Damar) ditempatkan di Ibukota Majapahit.
  6. Usman Haji ditempatkan di Ngudung-Matahun dengan gelar Pangeran Ngudung.
  7. Syekh Suta Maharaja tetap ditempatkan di Pajang.
  8. Raden Hasan (Raden Fatah) ditempatkan di Glagah Wangi Bintara, yang termasuk wilayah Lasem, untuk menggantikan kakeknya Syekh Bentong dan mendapat gelar Pangeran Bintara. Raden Hasan juga melakukan koordinasi dan memperkuat dakwah Islam di kawasan Surabaya, Canggu dan Jedong.

Berbagai halangan, rintangan dan pengalaman pahit terjadi dalam upaya dakwah di negara-negara bagian Majapahit, tetapi Sunan Ampel mampu mengkoordinasikan dengan baik dalam wadah Dewan Walisanga (Dewan Dakwah Sembilan Penjuru[1]) dan melakukan pendekatan-pendekatan dakwah yang dinamis dan fleksible.
Sejarah Singkat Sunan Ampel

Sunan Ampel meninggal pada tahun 1478 M dengan memberikan karya besar yaitu :
  1. Lahirnya basis-basis personal yang tauhidi dan bermental jihadi menjadi roh bagi perjuangan penegakan Islam menyongsong futuh Islam di Tanah Jawa.
  2. Ampel Denta (Surabaya) menjadi pusat dakwah Islam di Tanah Jawa yang selanjutnya terjadi penyebaran hampir di seluruh wilayah negara bagian Majapahit.
  3. Para Kader Dakwah Ampel Denta menjadi pelopor perjuangan futuh Islam di Tanah Jawa dengan menjadi koordinator-koordinator dakwah di sembilan wilayah inti kekuasaan Majapahit yaitu Trowulan (Ibu Kota Majapahit), Kahuripan, Daha, Wengker, Matahun, Pajang, Pamanahan, Wirabumi, dan Lasem. Lasem tepatnya wilayah Bintara yang dikoordinir oleh Raden Fatah alias Pangeran Bintara selanjutnya menjadi pusat penyerangan Negara Islam Demak terhadap Majapahit.
  4. Sunan Ampel meninggal dunia 1478 M (tahun yang sama runtuhnya Majapahit) setelah menghantarkan berdirinya Negara Islam Demak dengan meruntuhkan kerajaan Majapahit.

DAFTAR PUSTAKA :
[1] http://serbasejarah.wordpress.com/2008/12/13/sunan-ampel-pengkader-para-pejuang/
Mengislamkan Tanah Jawa terbitan Mizan 1997 hal 21-22
http://h4ck3rt3m4y4n9.blogspot.com/2011/07/sunan-ampel-pengkader-para-pejuang.html

Sejarah Singkat Kerajaan (Kesultanan) Ternate Tidore

Sudah tahu tentang kerajaan atau kesultanan Ternate yang satu ini? Jika belum anda bisa mengikuti berikut yang akan membahas secara ringkas mengenai Sejarah Kerajaan Ternate Tidore tersebut. Dalam uraian ini akan dikemukakan perkembangan awal kerajaan tersebut sampai pada berbagai pembahasan mengenai kehidupan yang ada pada masa itu.

Pembahasan mengenai materi sejarah kali ini akan menghantarkan anda pada pengetahuan mengenai kehidupan suatu kerajaan yang di dalamnya ada beberapa informasi penting antara lain sebagai berikut:
1. Letak
2. Kehidupan politik
3. Kehidupan ekonomi
4. Sosial budaya dan sebagainya.

Jika anda ingin tahu lebih banyak mengenai point-point tersebut di atas maka silahkan ikuti sampai selesai pembahasan mengenai Sejarah Singkat Kerajaan (Kesultanan) Ternate Tidore berikut ini.

Masuknya Islam ke Maluku erat kaitannya dengan kegiatan perdagangan. Pada abad ke-15, para pedagang dan ulama dari Malaka dan Jawa menyebarkan Islam ke sana. Dari sini muncul empat kerajaan Islam di Maluku yang disebut Maluku Kie Raha (Maluku Empat Raja) yaitu Kesultanan Ternate yang dipimpin Sultan Zainal Abidin (1486-1500), Kesultanan Tidore yang dipimpin oleh Sultan Mansur, Kesultanan Jailolo yang dipimpin oleh Sultan Sarajati, dan Kesultanan Bacan yang dipimpin oleh Sultan Kaicil Buko. Pada masa kesultanan itu berkuasa, masyarakat muslim di Maluku sudah menyebar sampai ke Banda, Hitu, Haruku, Makyan, dan Halmahera. 

Kerajaan Ternate dan Tidore yang terletak di sebelah Pulau Halmahera (Maluku Utara) adalah dua kerajaan yang memiliki peran yang menonjol dalam menghadapi kekuatan-kekuatan asing yang mencoba menguasai Maluku. Dalam perkembangan selanjutnya, kedua kerajaan ini bersaing memperebutkan hegemoni politik di kawasan Maluku. Kerajaan Ternate dan Tidore merupakan daerah penghasil rempah-rempah, seperti pala dan cengkeh, sehingga daerah ini menjadi pusat perdagangan rempah-rempah. Wilayah Maluku bagian timur dan pantai-pantai Irian (Papua), dikuasai oleh Kesultanan Tidore, sedangkan sebagian besar wilayah Maluku, Gorontalo, dan Banggai di Sulawesi, dan sampai ke Flores dan Mindanao, dikuasai oleh Kesultanan Ternate. 

Kerajaan Ternate mencapai puncak kejayaannya pada masa Sultan Baabullah, sedangkan Kerajaan Tidore mencapai puncak kejayaannya pada masa Sultan Nuku. Persaingan di antara kerajaan Ternate dan Tidore adalah dalam perdagangan. Dari persaingan ini menimbulkan dua persekutuan dagang, masing-masing menjadi pemimpin dalam persekutuan tersebut, yaitu:
  • Uli-Lima (persekutuan lima bersaudara) dipimpin oleh Ternate meliputi Bacan, Seram, Obi, dan Ambon. Pada masa Sultan Baabulah, Kerajaan Ternate mencapai aman keemasan dan disebutkan daerah kekuasaannya meluas ke Filipina.
  • Uli-Siwa (persekutuan sembilan bersaudara) dipimpin oleh Tidore meliputi Halmahera, Jailalo sampai ke Papua. Kerajaan Tidore mencapai aman keemasan di bawah pemerintahan Sultan Nuku. Kerajaan-kerajaan Islam lainnya yang berkembang adalah Kesultanan Palembang yang didirikan oleh Ki Gedeng Suro, Kerajaan Bima di daerah bagian timur Sumbawa, dengan rajanya La Ka'i, Siak Sri Indrapura yang didirikan oleh Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah, dan masih banyak lagi Kerajaan Islam kecil lainnya di Indonesia.

Letak Kerajaan Ternate Tidore
Secara geografis kerajaan ternate dan tidore terletak di Kepulauan Maluku, antara sulawesi dan irian jaya letak terletak tersebut sangat strategis dan penting dalam dunia perdagangan masa itu. Pada masa itu, kepulauan maluku merupakan penghasil rempah-rempah terbesar sehingga di juluki sebagai "The Spicy Island". 

Rempah-rempah menjadi komoditas utama dalam dunia perdagangan pada saat itu, sehingga setiap pedagang maupun bangsa-bangsa yang datang dan bertujuan ke sana, melewati rute perdagangan tersebut agama islam meluas ke maluku, seperti Ambon, ternate, dan tidore. Keadaan seperti ini, telah mempengaruhi aspek-aspek kehidupan masyarakatnya, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Setelah membahas mengenai hal di atas termasuk tentang letak kerajaan sekarang anda bisa melanjutkan membaca Sejarah Ternate Tidore ini pada bagian kehidupan kerajaan seperti politik, ekonomi dan lain sebagainya. Penjelasan ringkasnya sebagai berikut!

Kehidupan Politik Ternate Tidore
Di kepulauan maluku terdapat kerajaan kecil, diantaranya kerajaan ternate sebagai pemimpin Uli Lima yaitu persekutuan lima bersaudara. Uli Siwa yang berarti persekutuan sembilan bersaudara. Ketika bangsa portugis masuk, portugis langsung memihak dan membantu ternate, hal ini dikarenakan portugis mengira ternate lebih kuat. Begitu pula bangsa spanyol memihak tidore akhirnya terjadilah peperangan antara dua bangsa kulit, untuk menyelesaikan, Paus turun tangan dan menciptakan perjanjian saragosa. Dalam perjanjian tersebut bangsa spanyol harus meninggalkan maluku dan pindah ke Filipina, sedangkan Portugis tetap berada di maluku.

Sultan Hairun
Untuk dapat memperkuat kedudukannya, portugis mendirikan sebuah benteng yang di beri nama Benteng Santo Paulo. Namun tindakan portugis semakin lama di benci oleh rakyat dan para penjabat kerajaan ternate. Oleh karena itu sultan hairun secara terang-terangan menentang politik monopoli dari bangsa portugis.

Sultan Baabullah
Sultan baabullah (Putra Sultan Hairun) bangkit menentang portugis. Tahun 1575 M Portugis dapat dikalahkan dan meninggalkan benteng.

Kehidupan Ekonomi Ternate Tidore
Tanah di Kepulauan maluku itu subur dan diliputi hutan rimba yang banyak memberikan hasil diantaranya cengkeh dan di kepulauan Banda banyak menghasilkan pala. Pada abad ke 12 M permintaan rempah-rempah meningkat, sehingga cengkeh merupakan komoditi yang penting. Pesatnya perkembangan perdagangan keluar dari maluku mengakibatkan terbentuknya persekutuan. Selain itu mata pencaharian perikanan turut mendukung perekonomian masyarakat.

Kehidupan Sosial Ternate Tidore
Kedatangan bangsa portugis di kepulauan Maluku bertujuan untuk menjalin perdagangan dan mendapatkan rempah-rempah. Bangsa Portugis juga ingin mengembangkan agama katholik. Dalam 1534 M, agama Katholik telah mempunyai pijakan yang kuat di Halmahera, Ternate, dan Ambon, berkat kegiatan Fransiskus Xaverius.

Seperti sudah diketahui, bahwa sebagian dari daerah maluku terutama Ternate sebagai pusatnya, sudah masuk agama islam. Oleh karena itu, tidak jarang perbedaan agama ini dimanfaatkan oleh orang-orang Portugis untuk memancing pertentangan antara para pemeluk agama itu. Dan bila pertentangan sudah terjadi maka pertentangan akan diperuncing lagi dengan campur tangannya orang-orang Portugis dalam bidang pemerintahan, sehingga seakan-akan merekalah yang berkuasa.
Sejarah Singkat Kerajaan (Kesultanan) Ternate Tidore

Setelah masuknya kompeni Belanda di Maluku, semua orang yang sudah memeluk agama Katholik harus berganti agama menjadi Protestan. Hal ini menimbulkan masalah-masalah sosial yang sangat besar dalam kehidupan rakyat dan semakin tertekannya kehidupan rakyat.

Keadaan ini menimbulkan amarah yang luar biasa dari rakyat Maluku kepada kompeni Belanda. Di Bawah pimpinan Sultan Ternate, perang umum berkobar, namun perlawanan tersebut dapat dipadamkan oleh kompeni Belanda. Kehidupan rakyat Maluku pada zaman kompeni Belanda sangat memprihatinkan sehingga muncul gerakan menentang Kompeni Belanda.

Kehidupan Budaya Ternate Tidore
Rakyat Maluku, yang didominasi oleh aktivitas perekonomian tampaknya tidak begitu banyak mempunyai kesempatan untuk menghasilkan karya-karya dalam bentuk kebudayaan. Jenis-jenis kebudayaan rakyat Maluku tidak begitu banyak kita ketahui sejak dari zaman berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam seperti Ternate dan Tidore. 

Referensi
http://northmelanesian.blogspot.com/2012/04/sejarah-kesultanan-ternate.html. 

Sejarah untuk sma kelas X Nana supratna penerbit grafindo 2006

http://northmelanesian.blogspot.com/2012/04/sejarah-kesultanan-ternate.html#sthash.FBPv2pdN.dpuf